Ratusan Bangunan Cagar Budaya Hilang Esensi

50
PERTAHANKAN : Salah satu bangunan peninggalan kolonial Belanda yang kini dimanfaatkan menjadi Museum Batik.ALIEF MAULANA / RADARSEMARANG.ID,
PERTAHANKAN : Salah satu bangunan peninggalan kolonial Belanda yang kini dimanfaatkan menjadi Museum Batik.ALIEF MAULANA / RADARSEMARANG.ID,

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN – Ratusan bangunan cagar budaya di Kota Pekalongan telah beralih fungsi dan sudah tidak memiliki nilai sejarah yang kuat karena fungsinya. Hal tersebut dikarenakan banyak bangunan cagar budaya tidak memiliki kekuatan hukum tetap dari kepala daerah.

Hal tersebut disampaikan pegiat sejarah Pekalongan Heritage Community, Mohammad Dirhamsyah, saat mengisi edukasi siswa berbasis cagar budaya Rabu (20/3). Dikatakan Dirham, saat ini ada lebih dari ratusan bangunan di Kota Pekalongan tidak memiliki SK Wali Kota.

“Kalau di Kota Pekalongan dalam tanda kutip tidak aman, bahkan mayoritas tidak memiliki kekuatan hukum tetap dalam arti tidak memiliki SK pejabat tertinggi dalam hal ini wali kota atau bupati bahwa ini bangunan cagar budaya yang harus dijaga,” ujar Dirham.

Dirham menambahkan, terdapat 23 bangunan cagar milik Pemkot Pekalongan dan Pemprov Jateng, dua bangunan milik PT Kereta Api Indonesia, dan PT Pertani yang berada di kawasan budaya di Jalan Jetayu. Bangunan cagar budaya milik pemerintah tersebut dimanfaakan menjadi perkantoran dan juga menjadi Museum Batik. Sedangkan bangunan milik
warga dijadikan sebagai toko modern.

“Banyak bangunan yang sudah mulai hilang esensi cagar budayanya. Saya harap ada tim ahli cagar budaya yang menginventarisir dan merekomendasikan kepada pimpinan daerah kemudian baru diterbitkan SK-nya. Namun di Kota Pekalongan bisa dikatakan tidak ada, dan ini kan rawan,” imbuhnya.

Sementara Mursadad dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM mengatakan, alih fungsi bangunan cagar budaya masih diperbolehkan asalkan tidak menghilangkan atau merubah bentuk dari esensi cagar budayanya.

“Menurut saya, alih fungsi cagar budaya itu boleh saja tetapi jangan sampai nilai cagar budayanya hilang. Karena sekarang ini banyak bangunan cagar budaya yang dibongkar dan berubah menjadi bangunan lain, itu yang salah,” ujar Mursadad.

Dirinya mengajak, agar pengawasan dan pemeliharaan bangunan cagar bidaya dilakukan bersama-sama. Memberi pemahaman melalui semisal cagar budaya kepada generasi sekarang juga sangat diperlukan, mengingat generasi sekarang mulai abai terhadap bangunan-bangunan seperti itu.

“Kita harus ikut terlibat, semuanya. Karena ada Udang-Undang mengenai cagar budaya. Ini sangat penting, bukan kita ingin kembali ke masa lalu, tetapi kita ingin tunjukkan bahwa kita punya warisan yang harus dipertahankan untuk generasi ke depan,” tandasnya. (alf/zal)