Perlu Standarisasi Knalpot agar Diakui

Disperindag Siap Dampingi Pelaku Industri

41

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG–Produk industri Jateng tidak kalah dalam sisi kualitas. Hanya saja, masih ada yang dibuat belum memenuhi standar, seperti produk knalpot racing dari Kabupaten Purbalingga.

Kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng, para perajin menyampaikan keluhan mereka mengenai hal ini. Gubernur Ganjar Pranowo menerima keluhan mengenai bagaimana standar knalpot yang sesuai dengan aturan lalulintas di jalan raya. ”Mereka mengeluhkan mengenai standar, batasan agar sesuai dengan aturan. Padahal, menurut saya, knalpot buatan Purbalingga itu keren,” ujar Gubernur.

Dalam hal ini, ia katakan, Dinas Perindustrian dan Kepolisian perlu duduk bersama untuk memberikan solusi. Karena ini merupakan karya anak bangsa yang memiliki potensi. Bukan tanpa alasan, knalpot buatan warga Purbalingga sudah dikenal di berbagai negera. Sebab, sempat bekerjasama dengan Mercedez-Benz.

Knalpot dari Purbalingga juga sudah dikirim ke beberapa negara seperti Jerman, Dubai dan beberapa negara di Asia dan Eropa lainnya. ”Ini potensi dan harus didampingi terus agar lebih berkembang dan maju,” kata dia.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jateng akan berkoordinasi dengan kepolisian mengenai hal ini. Komunikasi dengan dinas dan instansi terkait juga sudah dilakukan untuk menemukan solusi. ”Kami akan melakukan pendampingan kepada perajin terkait aturan-aturan yang ada,” kata Kepala Disperindag Jateng, Arif Sambodo, Rabu (20/3) kemarin.

Mengenai knalpot, ia menerangkan, terdapat aturan mengenai suara kebisingan yang dihasilkan. Aturan ini harus ditaati oleh para perajin. ”Memang ada aturan mengenai kerasnya suara. Mungkin, selama ini belum banyak diketahui para perajin. Tapi nanti akan kami lakukan pendampingan,” ujarnya.

Dengan demikian, produk yang dihasilkan sesuai dengan standar aturan. Tidak hanya standar suara, knalpot juga harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Terkait hal ini, Disperindag akan terus mendorong agar para perajin bisa mendapatkannya dari lembaga terkait. ”Kalau sudah SNI berarti sudah diakui. Dampaknya baik, ke depannya bisa diekspor ke luar negeri atau mungkin kerjasama dengan pabrikan ternama,” jelasnya. (sga/ida)