Noyontaansari Unggulkan Kampung Cantring dan Wisata Religi

39
PRODUK UNGGULAN : Ketua tim penilai pelaksana gotong royong Jateng meninjau produk Desa Noyotaansari, Kota Pekalongan kemarin. (ALIEF MAULANA / RADARSEMARANG.ID)
PRODUK UNGGULAN : Ketua tim penilai pelaksana gotong royong Jateng meninjau produk Desa Noyotaansari, Kota Pekalongan kemarin. (ALIEF MAULANA / RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN – Kelurahan Noyontaansari, Kecamatan Pekalongan Timur, masuk tiga besar pemilihan pelaksana gototong royong tingkat Jawa Tengah tahun 2019. Noyontaansari merupakan satu-satunya kelurahan yang mewakili Kota Pekalongan dalam perlombaan tersebut dengan mengunggulkan pusat kerajinan cantring dan wisata religi.

Camat Pekalongan Timur, Sukirno mengatakan bahwa desa dengan luas 9.121 hektare tersebut memiliki banyak potensi. Tidak hanya kerajinan dan wisatanya saja, kesenian tradisional serta keberagaman budaya didalamnya menjadi daya tarik tersendiri yang dimiliki Desa Noyontaansari.

“Kelurahan Noyontaansari ini ada kampung canting yang di suport Pemkot Pekalongan dengan anggaran Rp 190 juta dalam renovasi kampung canting. Banyak kerajinan yang dihasilkan di sana seperti pajangan-pajangan dan sebagainya. Untuk wisata religi, kami ada makam mbah Landung yang dihormati di sini, kemudian ada kesenian musik rampak juga. PKK di sini juga terbilang sangan aktif karena banyak menghasilkan produk-produk olahan pangan,” ujar Sukirno.

Wali Kota Pekalongan, Saelany Machfudz optimistis terhadap potensi yang dimiliki Desa Noyontaansari akan membawa pada peringkat satu. “Tentunya saya optimistis, selain menumbuhkan kegotong royongan, saya berharap ini bisa mendorong desa-desa lain agar bisa mengembangkan potensinya masing-masing,” harap wali kota.

Sementara itu, Ketua tim penilai pelaksana gotong royong masyarakat tingkat Jateng 2019, dari Dispermades Dukcapil Jateng, Agus Suranta menjelaskan bahwa Kelurahan Noyontaan masuk tiga besar dalam penilaian tersebut. Dua desa lainnya adalah Bendan (Kota Semarang) dan Tidar Selatan (Kota Magelang).

“Untuk indikator penilaiannya sudah kita miliki yang diterjemahkan dalam skoring. Ada empat bidang, yaitu kemasyarakatan, ekonomi, lingkungan, serta sosial budaya dan keagamaan. Ada beberapa lembaga dan instansi yang tergabung dalam tim penilaian. Dan tentu kita akan bekerja secara profesional dan objektif,” ujar Agus.

Agus juga menambahkan bahwa dirinya sempat tertarik dengan beberapa kerajinan khas desa cantring di Noyontaansari saat berkunjung. Tidak hanya dinilai, pihaknya juga memberi pendampingan untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi yang dimiliki desa Noyontaan. “Cukup menarik, namun dalam penilaian tentunya kita melihat dari inovasi yang dimiliki desa ini tentunya,” tandasnya. (alf/zal)