PKL Bugangan Ngotot Bertahan di Bantaran

57
MENOLAK PINDAH : Sejumlah PKL di Bugangan, bantaran BKT masih bertahan. Mereka menolak pindah karena lahan relokasi dianggap kurang luas. (ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID)
MENOLAK PINDAH : Sejumlah PKL di Bugangan, bantaran BKT masih bertahan. Mereka menolak pindah karena lahan relokasi dianggap kurang luas. (ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Barito hingga kini belum juga rampung. Meski PKL di beberapa kelurahan sudah mau direlokasi, namun masih ada saja PKL yang sampai saat ini memilih bertahan. Diantaranya PKL di Kelurahan Bugangan dan Rejosari.

Mereka berdalih, Dinas Pasar belum belum membangun kios di tempat relokasi dan melengkapi fasilitas lainnya.“Selama ini kami belum geser karena belum dipenuhi janjinya. Dulu Dinas Perdagangan janjinya kalau PKL pindah tinggal masuk terima kunci. Itu berarti sarana prasarana sudah komplit,” kata Ketua PKL Rejosari Yusak Edy Winanjaya Sabtu (16/3).

Ia mewakili para PKL di Kelurahan Bugangan mengaku masih keberatan jika diminta untuk membangun lapak sendiri di tempat relokasi. Kondisi tersebut memang berbeda dengan PKL di kelurahan lain yang mau membangun kios sendiri di tempat relokasi.

Ia berharap, pemkot tidak hanya menyediakan lahan saja di Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah, namun juga membangunkan lapak. Lahan yang disediakan Dinas Perdagangan di kawasan MAJT dianggap kurang luas.

Menurutnya, luas lahan untuk PKL Rejosari dan Bugangan tidak bisa disamakan dengan PKL Karangtempel yakni 3×5 meter per lapak. Sebab, para pedagang Karangtempel hanya menjual barang dan jasa.

Sedangkan, para pedagang Bugangan dan Rejosari tidak hanya menjual barang dan jasa tetapi juga memproduksi barang seperti kompor, tempat sampah, gentong. Barang dagangannya juga berbeda dengan para pedagang Karangtempel.

“Misal jualan drum, kalau ukuran 3×5 meter hanya buat berapa drum? Yang jual material, rosok, kardus, kalau hanya 3×5 meter apa akan muat banyak? Apa itu bisa dikatakan layak?,” katanya.

Diakuinya, para pedagang bisa menempati lahan enam meter hingga 12 meter di bantaran BKT. Sementara saat ini pedagang Rejosari dan Bugangan yang belum pindah sekitar 98 pedagang.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua PKL Bugangan, Suleman. Para PKL akan menghadap kepada Wali Kota Semarang untuk menagih janji pemkot yang akan membangunkan kios.

“Kami akan berunding dengan paguyuban kapan akan menghadap Pak Wali, mungkin pekan depan,” kata Suleman. Ia juga belum bisa memastikan kapan akan pindah dari bantaran sungai BKT.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto menuturkan, awalnya para PKL memang akan diberikan kios-kios yang ada di Penggaron yang hanya tinggal menempati saja.

Namun, mereka menolak dengan alasan lapak di Penggaron kurang luas. Akhirnya, pihaknya memberikan lapak tersebut untuk para pedagang yang mau menempati. “Dulu sudah diberikan tempat di Penggaron yang tinggal menempati tapi mereka tidak mau. Sekarang, mereka menuntut. Mereka selalu mencari celah dan memang tidak ada itikad baik,” ujar Fajar.