Ganjar: Beda Pilihan Jangan Hancurkan Persaudaraan

117
KITA MERAH PUTIH: Ulama kharismatik Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan orasi di depan massa Apel Kebangsaan “Kita Merah Putih” yang digelar di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, Minggu (17/3). (bawah) Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan wakilnya Taj Yasin Maimoen berduet dengan Slank menyanyikan lagi “Ku Tak Bisa.” (Nurchamim/ISTIMEWA/RADARSEMARANG.ID)
KITA MERAH PUTIH: Ulama kharismatik Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan orasi di depan massa Apel Kebangsaan “Kita Merah Putih” yang digelar di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, Minggu (17/3). (bawah) Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan wakilnya Taj Yasin Maimoen berduet dengan Slank menyanyikan lagi “Ku Tak Bisa.” (Nurchamim/ISTIMEWA/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG- Lagu Bagimu Negeri mengiringi penyerahan simbol kebangsaan oleh para tokoh nasional kepada generasi muda. Pada Apel Kebangsaan di Lapangan Pancasila Semarang, Minggu (17/3) siang, simbol kebangsaan diserahkan dengan harapan semangat cinta tanah air dapat terus dilanjutkan. Para tokoh memberikan simbol di atas panggung utama, dari kanan kiri panggung bendera merah putih raksasa dibentangkan di antara ribuan warga yang sudah memadati lapangan sejak pagi. Masih dalam iringan lagu Bagimu Negeri, warga menepi memberikan ruang kepada lambang negara itu. Beberapa warga larut dalam suasana yang cukup menyentuh. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan deklarasi menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diikuti pembebasan ratusan ekor merpati putih dari sangkar.

Sebelumnya, sejumlah tokoh dan para ulama, termasuk Gubernur Ganjar Pranowo menyerukan orasi kebangsaan di hadapan ribuan hadirin. Mereka datang dari seluruh penjuru Provinsi Jawa Tengah dan kompak mengenakan ikat kepala merah putih. Sesuai tema Apel Kebangsaan ”Kita Merah Putih”.

Dalam orasinya, Gubernur Ganjar mengutip pidato Bung Karno saat pertama dilantik menjadi presiden RI. Dikatakan, sejak republik ini berdiri, ancaman terbesar sejatinya bukan dari luar, melainkan pertikaian antarwarga sendiri.

”Lihat bangsa kita sekarang ini. Fitnah, hoaks merajalela. Tuduh menuduh. Apakah fitnah dan hoaks akan kita biarkan? Apakah permusuhan yang merusak sendi-sendi kebangsaan akan kita biarkan? Saya yakin semua berkata tidak,” teriak gubernur.

Tidak cukup berkata tidak. Perlu aksi nyata dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, gubernur mengajak segenap masyarakat Indonesia untuk menjaga lisan dan jari dalam berdemokrasi. Ia mengajak untuk senantiasa mengingat ajaran leluhur menjaga persatuan Indonesia.

”Boleh berbeda pendapat, tapi harus saling hormat. Jangan sampai perbedaan pilihan menghancurkan persaudaraan kita. Kita adalah merah putih. Kita Indonesia,” pesannya.
Menjaga kesatuan bangsa menjadi hal penting. Jangan sampai, hanya karena pemilu masyarakat Indonesia terpecah belah. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Mahfud MD dalam orasinya mengatakan, justru pemilu adalah cara untuk menyatukan NKRI. ”Saat ini kita apel merah putih. Mari berwatak, berjiwa dan berlaku merah putih. Simbol berani melawan ketidakadilan, melawan korupsi. Kita juga harus putih agar kita bersih dari perilaku korupsi,” ajak dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta ini. Ajakan yang sama disampaikan KH Maimoen Zubaer dalam orasinya. Ia mengajak warga menjaga persatuan dan kesatuan di Jawa Tengah dan Indonesia.

Semangat menjaga persatuan juga dikobarkan Habib Luthfi bin Yahya. Melalui orasinya, ulama kharismatik dari Pekalongan ini juga membakar semangat massa. ”Apakah kalau sudah berkumpul seperti ini, kita ragu dengan kekuatan Indonesia?” ujarnya sembari mengepalkan tangan dan meminta massa menjawab dengan tegas.