40 Kampung Maju ke Tahap Kedua

83
BANYAK TANAMAN : Tim juri saat mengunjungi RW 5 Kelurahan Mugassari Kecamatan Semarang Selatan yang ikut kategori Kampung Bersih dan Hijau. (BASKORO/RADARSEMARANG.ID)
BANYAK TANAMAN : Tim juri saat mengunjungi RW 5 Kelurahan Mugassari Kecamatan Semarang Selatan yang ikut kategori Kampung Bersih dan Hijau. (BASKORO/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG—Dewan juri Lomba Kampung Hebat 2018-2019 akhirnya memutuskan 40 kampung dan 6 tokoh maju ke penilaian tahap kedua. Persaingan ketat terjadi di beberapa kategori sehingga juri memutuskan untuk menambah nomine yang lolos tahap selanjutnya.

Koordinator Juri Pratono menjelaskan, Lomba Kampung Hebat membagi peserta dalam 7 kategori sesuai dengan pendaftaran. Setiap kategori diambil 6 besar untuk maju ke tahap kedua. “Tapi untuk kategori Kampung Bersih dan Hijau serta Kampung kreatif dan Inovatif, akhirnya diputuskan nominenya ditambah, masing-masing menjadi 8 kampung yang maju ke tahap kedua. Di dua kategori ini persaingan memang ketat, selain jumlah pesertanya juga terbanyak,” jelasnya.

Total ada 296 kampung, 31 kantor kelurahan dan 26 tokoh personal yang dinilai tim juri selama Februari 2019 lalu. Peserta kategori Kampung Bersih dan Hijau paling banyak, tercatat ada 96 kampung. Selanjutnya ada 75 kampung peserta kategori Kampung Kreatif dan Inovatif, 53 kampung sebagai Kampung Rukun dan Aman, 50 kampung untuk kategori Kampung Sehat, dan 22 kampung di kategori PKK Terbaik.

Tim juri harus berdiskusi serius untuk memilih para nomine juara, terutama pada kategori Kampung Bersih dan Hijau, Kampung Kreatif dan Inovatif, Kampung Sehat serta Kampung Rukun dan Aman. Bahkan juri juga sempat mendatangi kembali sejumlah kampung tanpa pemberitahuan terlebih dulu untuk mengecek ulang data yang ada.

Di beberapa kampung terlihat ada yang berbeda dengan saat dikunjungi juri. Seperti pot bunga yang tidak ada lagi di lokasi seperti pada saat penjurian, ada titik dalam kampung yang tidak ditunjukkan ke juri atau sampah yang terlihat ada di satu tempat lebih dari seminggu.

Selama proses penjurian, ada beberapa catatan dari dewan juri. Banyak peserta yang benar-benar serius untuk mengikuti lomba ini, tapi ada pula yang tampak kurang bersemangat dan menampilkan kondisi seadanya. Sejumlah kampung sudah menjadi langganan peserta lomba yang digelar berbagai pihak, sehingga terlihat hanya sekadar memoles kembali tanpa menampilkan inovasi baru. “Meski begitu, ada juga juga peserta yang benar-benar memulai dari nol. Warga benar-benar bergerak bersama untuk menghadapi lomba ini.”

Di kategori PKK Terbaik, banyak peserta yang salah memahami kriteria lomba. Dalam Lomba Kampung Hebat ini yang diajukan harusnya PKK di tingkat RW, tapi banyak yang memberikan data untuk PKK tingkat kelurahan. “Sebenarnya tujuan kami di kategori PKK ini untuk memacu kegiatan PKK hingga di tingkat RW, tidak hanya di tingkat kelurahan,” jelas redaktur Jawa Pos Radar Semarang ini.

Selanjutnya ada peserta yang mengikutkan sebagian wilayah kampungnya untuk dinilai juri. Di Kampung Rukun dan Aman, ada yang menyiapkan satu pos kamling saja untuk dinilai, padahal wilayah RW-nya luas. Begitu juga untuk Kampung Bersih dan Hijau, hanya satu gang saja yang benar-benar dihijaukan. “Ada beberapa pihak yang coba merayu juri agar kampungnya bisa diloloskan, tapi kami hanya perpedoman pada penilaian di lapangan,” kata Pratono.