Rumah Bersejarah, Berharap Sentuhan Pemerintah

Napak Tilas Kantor dan Rumah Bupati Semarang Pertama, Sumardjito

104
BERSEJARAH: Kondisi rumah yang pernah digunakan sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Semarang pada masa Bupati Sumardjito di Desa Pager, Kecamatan Kaliwungu. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADARSEMARANG.ID)
BERSEJARAH: Kondisi rumah yang pernah digunakan sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Semarang pada masa Bupati Sumardjito di Desa Pager, Kecamatan Kaliwungu. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADARSEMARANG.ID)

Ada salah satu rumah bersejarah di Dusun Karang Kepoh, Desa Pager, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang. Ya, rumah sederhana yang kini ditempati warga, itu dulunya kantor sekaligus rumah Bupati Semarang pertama, Sumardjito. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Kaliwungu

Bangunan rumah seluas 500 meter persegi tersebut pernah digunakan sebagai pusat Pemerintahan Kabupaten Semarang pada masa Bupati Sumardjito periode 1947-1950. Kini rumah milik Singo Prawiro tersebut dihuni oleh keturunannya.

Saat Jawa Pos Radar Semarang ke rumah tersebut, mendapati salah satu menantu dari keturunan Singo Prawiro yang menempati yaitu Sri Wujuk Kuncorowati. Wanita berusia 72 tahun asal Surakarta tersebut merupakan generasi ke empat dari Singo Prawiro.

Singo Prawiro sendiri merupakan kepala dusun (Kadus) di Dusun Karang Kepoh atau yang lebih populer dengan nama ‘Bekel’. Keberadaan rumah tersebut memang tidak banyak yang mengetahui. Selain jarang dikunjungi oleh Pemerintah Kabupaten Semarang, rumah bersejarah tersebut juga luput dari perhatian pemerintah setempat.

“Semenjak saya di sini tahun 1972 baru dua kali Bupati Semarang ke sini, itupun sudah sangat lama,” ujar Sri.
Sri mengatakan rumah leluhurnya tersebut pernah digunakan Bupati Sumardjito yang melarikan diri dari kejaran penjajah Belanda.

Saat itu, rumah dan kantor bupati yang sehari-hari ditempati Sumardjito berada di Kanjengan Kota Semarang. “Karena dikejar-kejar Belanda, makannya ia (Sumardjito) melarikan diri hingga ke Desa Pager ini,” ceritanya.

Sri sendiri merupakan istri dari Siswo Martono yang merupakan keturunan dari Singo Prawiro. Siswo Martono menikah dengan Sri, dan sejak tahun 1972 ia menempati rumah tersebut. “Saat ini tidak hanya saya saja, namun cicit dari bapak (Singo Prawiro) juga menempati rumah ini,” katanya.

Meski menempati bangunan bersejarah tersebut, keluarga Singo Prawiro tidak mengubah apapun posisi dan letak rumah tersebut. bahkan renovasi dilakukan dengan biaya keluarga sendiri, tanpa campur tangan dari Pemkab Semarang.

Mulai dari ruang kerja bupati, kamar tidur bupati, dapur masih dipelihara sesuai bentuk aslinya. “Namun memang barang-barang milik bupati dulu sudah diambil oleh Pemda Semarang,” ujarnya.
Hanya untuk lantai sudah dilakukan renovasi. Selain itu dinding juga dilakukan perbaikan. Namun untuk bangunan joglo yang berada di depan bangunan inti kini sudah tidak ada. “Dulu pernah ambruk,” katanya.

Ia berharap, Pemkab Semarang memberikan perhatiannya untuk bangunan bersejarah tersebut. Bahkan pihak keluarga rela jika rumah tersebut dibeli oleh Pemkab Semarang untuk dipatenkan menjadi bangunan bersejarah.

“Ya kalau tidak pernah diperhatikan, sama saja pemerintah melupakan sejarah berdirinya Kabupaten Semarang,” ujarnya.
Kades Pager Wahid Hasyim menambahkan saat itu Bupati Semarang Sumardjito terpaksa memindahkan pusat pemerintahan dari Semarang ke Karang Kepoh untuk menghindari serangan penjajah Belanda.
“Kalau cerita sesepuh desa yang dulu pernah ngobrol dengan saya, kala itu kantor bupati sekaligus rumah bupati cukup luas,” kata Wahid Hasyim.