Tinggal 17 Pasar Belum Direvitalisasi

Ditargetkan Tuntas 2021

45

RADARSEMARAN.ID, SEMARANG – Sebanyak 35 pasar tradisional dari 52 pasar yang ada di Kota Semarang saat ini sudah selesai direvitalisasi. Meski begitu, Dinas Perdagangan Kota Semarang masih memiliki 17 pasar tradisional yang belum direvitaliasasi.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto mengungkapkan, revitalisasi ke-17 pasar tradisional tersebut nantinya akan terus dikebut pada 2021 mendatang. “Saat ini memang beluma da lagi yang akan direvitalisasi,” ujar Fajar, Rabu (13/2).

Diakuinya, hingga akhir 2019 nanti revitalisasi pasar tradisional di Kota Semarang belum akan dilakukan. Hal itu dikarenakan, Pemkot Semarang melalui Dinas Perdagangan masih terfokus kepada pembongkaran PKL Banjir Kanal Timur (BKT). Juga penataan Blok C Pasar Johar. Revitalisasi pasar tradisional akan kembali dilakukan pada 2020 nanti. Pasar tradisional yang akan disasar kali pertama untuk direvitalisasi, yaitu Pasar Damar Banyumanik dan Pasar Ngaliyan.

“Tahun 2020 baru akan dijalankan kembali dengan revitalisasi Pasar Damar Banyumanik dan Pasar Ngaliyan,” katanya.
Ditambahkan, untuk anggaran revitalisasi pasar tradisional yang belum terealisasi, akan dicarikan dari beberapa sumber pendanaan. Tidak hanya APBD, pihaknya juga akan mengajukan anggaran ke pemerintah pusat melalui dana alokasi khusus (DAK) dan dana bantuan tugas pembangunan (BTP). “Kami berharap tahun 2021 nanti semua pasar yang ada di Kota Semarang bisa direvitalisasi semua,” tegasnya.

Sementara terkait banyaknya keluhan masyarakat tentang perencanaan pembangunan pasar tradisional yang dinilai tidak memperhitungkan kebutuhan pedagang, pihaknya mengaku sudah berkomunikasi dengan pedagang.

Idealnya, lanjutnya, pembangunan pasar tradisional di Kota Semarang memang harus dibangun dua lantai. Hal itu karena mempertimbangkan ketersediaan lahan dan jumlah pedagang yang ada. “Kecuali Pasar Wonodri, memang kami bangun dengan tiga lantai karena lahan di sana sangat sempit dan jumlah pedagangnya banyak. Agar semua pedagang terakomodir,” katanya.
Beberapa pedagang di pasar tradisional memang berharap jika pembangunan dapat mempertimbangkan kebutuhan pedagang dan pelanggan. Seperti yang diungkapkan salah satu pedagang Pasar Karangayu, Rohimah, 43.

“Kami berharap pembangunan tak harus tiga lantai, tapi bisa mengakomodasi kebutuhan pedagang. Pembangunan yang ada saat ini sudah bagus, tapi beberapa di antaranya malah membuat pasar menjadi sepi karena banyak pedagang yang enggan menempati kios di lantai atas,” katanya.

Dia juga berharap, perencanaan pembangunan pasar melibatkan para pedagang. Termasuk soal rencana relokasi pedagang ke tempat sementara, dan jadwal pembangunan. “Jangan sampai pembangunan molor lama, sehingga menyusahkan pedagang. Itu yang terjadi dalam beberapa pembangunan pasar di Kota Semarang, kerap molor lama,” katanya. (ewb/aro)