Fasilitas Kota untuk Tunarungu Minim, Sulit saat Cari Pekerjaan

Lebih Dekat dengan Komunitas Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin)

120
BAHASA ISYARAT: Kegiatan belajar bahasa isyarat dengan generasi milenial yang digelar Komunitas Gerkatin Semarang di arena car free day. (DOKUMEN PRIBADI)
BAHASA ISYARAT: Kegiatan belajar bahasa isyarat dengan generasi milenial yang digelar Komunitas Gerkatin Semarang di arena car free day. (DOKUMEN PRIBADI)

Lahir dengan kekurangan pendengaran tidak menyurutkan asa mereka untuk tetap berkaya. Mereka tergabung dalam Komunitas Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin). Menyejahterakan teman-teman tuli tujuan utamanya.

MARIA NOVENA

RADARSEMARANG.ID, SIAPA yang mau terlahir dengan kekurangan. Tidak dapat mendengar hingga tidak dapat berbicara. Komunikasi yang dilakukan dengan orang lain akan susah. Sejak 30 Juni 1981 lalu, Komunitas Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Kota Semarang didirikan. “Iya kami hadir sejak tahun 1981,”jelas Dimas, Ketua Gerkatin dengan bahasa isyarat.

Kata difabel selalu terlontar untuk Komunitas Gerkatin. Rasa malu, sakit, hingga marah pun menghantui. Mengeluh ke sesama tuli menjadi kegiatan rutin yang dilakukan. “Kami ini sering disebut difabel, sedih rasanya. Kami tidak minta dilahirkan seperti ini. Semua ini takdir,”timpal Bebe Stevia Sekretaris Gerkatin.

Tidak ada raut kesedihkan yang ditampilkan mereka. Justru kebahagian yang terpancar ketika ditemui. “Tujuannya sebagai wadah kaum tuna rungu untuk meningkatkan kesejahteraan, serta menggali potensi dan meningkatkan SDM tunarungu sebagai subjek pembangun,”tulis Dimas ketika ditanya tujuan Gerkatin.

Yang mereka inginkan hanyalah kesetaraan. Kesetaraan dalam hal pekerjaan. Teman-teman tuli menceritakan mencari pekerjaan dengan kekurangannya memang tidak mudah. “Teman-teman tuli bisa mendapat setara dengan orang lainnya bukan mendapat diskriminasi apalagi dalam hal pekerjaan,”tambahnya.

Dengan adanya UU Nomor 8 Tahun 2016 teman-teman tuli berterima kasih. Di bawah naungan Dinas Sosial, Gerkatin menggandeng beberapa perusahan besar untuk menyalurkan teman-teman tuli yang susah mencari pekerjaan. “Karena kebijakan Presiden Jokowi dengan UU disabilitas, kami mengupayakan bekerjasama dengan PT BBI, PT Techpack, PT Sami, PT MPR, dan Alfamart, namun tetap dengan catatan mengisi kolom difabel,”cerita Bebe.

Ketika mereka harus naik kereta, pesawat atau hanya bertanya arah jalan, mereka mengaku masih sering kesulitan. Banyak orang yang tidak mau membantu teman-teman tuli hanya sekadar menulis arah yang mereka minta. Sedih rasanya ketika mereka menuliskan keluhan yang mereka rasakan.

Komunitas Gerkatin untuk program belajar Basindo (Bahasa Isyarat Indonesia) mereka lakukan hingga pergi ke sekolah-sekolah, di ruang publik mereka mengumpulkan rasa simpatik. “Untuk mendapatkan simpatik dari orang-orang nomal biar mau belajar bahasa isyarat, jadi nanti ketika bertemu teman-teman tuli bisa bantu kami,”tulis Dimas di memo gadget.

Mereka juga menyampaikan bahwa fasilitas kota hanya fokus pada tunadaksa maupun tunanetra. Penerjemah bahasa isyarat untuk tunarungu belum disediakan. “Iya fasilitas untuk kami belum banyak yang ada di kota, namun ketika kami melihat televisi sudah ada bantuannya,”keluhnya lewat tulisan.

Ketika mencoba belajar bahasa isyarat memang tidak mudah. Sulit untuk menghafal dari dasarnya. Suasana semakin pecah ketika beberapa anggota Gerkatin memberikan semangat untuk belajar isyarat. Ketika melihat teman-teman tuli yang sangat antusias mengajarkan bahasa isyarat, jadi sedikit bisa.“Masih perlu menghafal dari A-Z,”katanya yang disampaikan lewat bahasa isyarat disambung dengan senyuman harapan.