Sisi Lain Kreativitas Warga Binaan Lapas Perempuan

Produknya Pernah Diikutkan Pameran hingga ke Jerman

109
KREATIF: Warga binaan pemasyarakatan Lapas Perempuan Semarang saat menjahit baju dan aksesoris lainnya di bengkel kerja setempat.Dewi Akmalah/RADARSEMARANG.ID,
KREATIF: Warga binaan pemasyarakatan Lapas Perempuan Semarang saat menjahit baju dan aksesoris lainnya di bengkel kerja setempat.Dewi Akmalah/RADARSEMARANG.ID,

Meskipun dengan kebebasan yang sementara waktu terenggut, tidak pula merenggut kreativitas warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Perempuan Klas II Bulu, Semarang ini untuk terus berkarya menghasilkan produk jahit berkualitas.

DEWI AKMALAH

RADARSEMARANG.ID, PANDANGAN negatif terhadap narapidana tidak bisa terhapus begitu saja di masyarakat. Mereka selalu dicap sebagai pelaku tindak kriminal yang harus dihindari karena masa lalu. Hal inilah yang ingin ditepis oleh 20 Warga Binaan Pemasayarakatan (WBP) Lapas Perempuan Klas II Semarang. Mereka bertekad, setelah bebas kelak dapat berguna bagi masyarakat. Dengan hasil karya ciptaan, mereka ingin membungkam stigma negatif masyarakat terhadap mantan narapidana. Untuk mendukung hal tersebut, pihak lapas memberikan keterampilan menjahit untuk bekal WBP.

“Kegiatan menjahit di Lapas Perempuan Klas II Semarang ini sudah lama dilakukan. Bahkan sejak saya bertugas pertama kali di lapas ini pada tahun 1992, kegiatan menjahit sudah dilakukan oleh warga binaan. Dulu masih menggunakan tangan, sekarang sudah berkembang menggunakan mesin jahit,” kata Kasi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Klas II Semarang, Gayatri Rachmi Rilowati, melalui
Staf Bengkel Kerja, Munarita, kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Berbagai pihak didatangkan untuk memberikan pelatihan. Dinas Tenaga Kerja Kota Semarang, Direktorat Lembaga Pemasyarakatan Pusat, perorangan maupun yayasan pernah memberikan ilmu kepada mereka. Selain memberikan pelatihan, ada juga pihak yang memberikan donasi berupa mesin jahit agar dapat digunakan untuk produksi. Hingga saat ini terdapat 20 mesin jahit yang secara aktif dapat digunakan untuk produksi. Dalam menciptakan produk, para WBP membagi segmen sesuai dengan keahlian mereka. Ada proses desain pola, sablon, jahit hingga quality control. Semua dilakukan oleh warga binaan sendiri.

“Untuk yang pertama itu proses membuat desain pola. Semua pola yang dibuat merupakan hasil kreativitas warga binaan. Ada bentuk tas, baju, dompet, mukena dan masih banyak lainnya merupakan karya sendiri. Kami bangga mereka dapat membuat pola produk yang kreatif,” lanjutnya.

Setelah pola ditentukan, dilakukan penyablonan agar warna dan gambar produk menjadi lebih menarik. Selanjutnya dilakukan tahap inti yaitu penjahitan produk. Setiap penjahit dituntut untuk teliti dan hati-hati agar produk yang dihasilkan bagus dan dapat bersaing dengan produk dari luar.

“Setiap penjahit wajib memberikan label nama mereka pada jahitannya, sehingga ketika proses akhir yaitu quality control terdapat jahitan yang salah atau kurang rapi dapat dikembalikan langsung ke penjahit untuk segera diperbaiki,” lanjutnya.

Cherry, salah satu WBP mengaku, dirinya sudah menekuni jahit sejak dirinya masuk lapas tersebut pada 2013. Ia mengaku belajar menjahit sejak dasar. Memang sebelumnya ia memilki keahlian tentang jahit. Saat ini, dia dapat menjahit berbagai macam produk. Tas, dompet, sarung bantal, taplak meja sudah pernah dibuat.