Liong Hwa Hing, Warga Pecinan Semarang Lestarikan Kaligrafi China

Melatih Kesabaran dan Mengasah Keseimbangan Jiwa

83
MENJAGA TRADISI: Liong Hwa Hing menunjukkan kaligrafi China di rumahnya di Kampung Sebandaran I, Semarang Tengah.JOKO SUSANTO/RADARSEMARANG.ID,
MENJAGA TRADISI: Liong Hwa Hing menunjukkan kaligrafi China di rumahnya di Kampung Sebandaran I, Semarang Tengah.JOKO SUSANTO/RADARSEMARANG.ID,

Zaman semakin berkembang, namun Liong Hwa Hing masih menjaga tradisi. Ia melestarikan budaya menulis kaligrafi China yang mulai dilupakan. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

RADARSEMARANG.ID, KALIGRAFI identik dengan tulisan Arab yang indah. Padahal semua tulisan tangan yang indah dan rapi bisa disebut kaligrafi. Ya, seni kaligrafi adalah seni menulis indah yang bentuk hurufnya telah dimodifikasi. Seperti yang ditekuni Liong Hwa Hing alias Hermawan. Usianya yang sudah 70 tahun tetap terlihat cekatan menggoreskan mata kuas di atas lembaran kertas bambu. Kedua tangannya masih luwes dan piawai mengoreskan tulisan-tulisan membentuk huruf-huruf China. Baginya, menulis kaligrafi China sekaligus untuk melatih tingkat kesabaran serta mengasah keseimbangan jiwa.

“Saya menekuni seni kaligrafi China ini, juga sekaligus mengusir sepi di masa tua. Apalagi menulis huruf mandarin itu, bentuknya simetris, jadi bisa sekaligus menuntun jiwa kita lebih stabil dan fokus menghadapi persoalan hidup,”cerita Liong Hwa Hing, mengawali pembicaraan terkait aktivitasnya, kemarin.

Liong sendiri menekuni seni kaligrafi China tersebut sejak awal 1990-an. Tak dipungkirinya, pertama memang iseng untuk melepas penat usai pensiun dari pekerjaannya sebagai pegawai kantoran. Sekarang ia setiap hari tekun melatih jemari tangannya menggoreskan mata kuas di atas lembaran kertas bambu.

Agar keahliannya terus terasah, ia selalu melatih tangannya minimal satu jam setiap harinya. Namun saat suasana hatinya sedang baik, bisa latihan membuat kaligrafi semalam suntuk hingga fajar tiba.

“Bahannya, saya pakai kertas bambu biar ndak gampang sobek. Sebenarnya bisa pakai kertas apa saja, cuma pakai kertas bambu cukup bagus bahannya,”kata salah satu pengajar di Perhimpunan Chinnes Kaligrafi and Painting Semarang ini saat ditemui di rumahnya Kampung Sebandaran I, Kelurahan Gabahan, Semarang Tengah.

Sampai kini, ia sudah mempelajari 3.500 huruf kaligrafi China. Jumlah itu, diakuinya, sudah cukup banyak bila dibandingkan pelajaran kaligrafi China yang diberikan kepada pelajar SMP dan SMA di seputar Pecinan yang hanya sekitar 2.000-3.000 huruf.

Ia juga membeberkan, terkait huruf-huruf mandarin yang diketahuinya. Dikatakannya, dari enam jenis huruf mandarin yang ada selama ini, dirinya telah mempelajari empat jenis. Ia menyebutkan, yang pertama bernama huruf Kai Shu, kemudian huruf Li Zhu yang telah ada sejak 2000 tahun masehi. Sepengetahuannya, jenis huruf Li Zhu kerap digunakan oleh para raja di masa Dinasti Han yang ada di dataran Tiongkok, dengan tujuan untuk membuat surat titah yang ditunjukan kepada pejabat kerajaan Dinasti Han. “Tapi ketika Kuomintang berkuasa, semua huruf Li Zhu diubah semua oleh pemerintah yang berkuasa saat itu,”jelasnya.

Selain itu, ada pula huruf Chao Shu. Huruf itu, dijelaskannya, sudah ada selama kurun waktu 2000 hingga 4000 masehi. Sehingga diakuinya, tingkat kesulitan dalam membuat huruf Chao Shu lebih tinggi.