Mengerti, Bukan Ingin Dimengerti

65
Direktur Jawa Pos Radar Semarang (Oleh: Baehaqi)
Direktur Jawa Pos Radar Semarang (Oleh: Baehaqi)

RADARSEMARANG.ID, SAYA orang Jawa Timur. KTP Sidoarjo. Tinggal di pinggiran. Selatan Surabaya. Terbiasa berbicara keras dan blak-blakan. Suatu saat sampai disindir oleh seorang kawan, wartawan di Semarang. “Mungkin ke depan saya harus bilang ke tukang sound kalau suara Pak Baehaqi itu sangat bertenaga. Supaya (soundnya) bisa disesuaikan,” ujarnya.

Karakter saya itu berbeda dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Beliau asli Lempongsari, tempat saya tinggal setahun terakhir. Penampilannya cool. Suaranya lembut. Tetapi dahsyat. Sindirannya seperti geledeg. “Pak, itu memang dibikin bolong atau hilang,” katanya kepada salah seorang kepala dinas sambil menunjuk ikon Taman Meteseh yang bogang (bolong, red).

Setahun terakhir saya harus lebih serius menyelami karakter orang Jawa Tengah, khususnya Semarang. Lahir dan besar sebenarnya di Kudus. Tetapi, separuh hidup nyaris bersama orang Surabaya yang terbiasa tanpa tedeng aling-aling. Hampir 30 tahun bekerja di Surabaya dan hampir 38 tahun tinggal di Jawa Timur.

Enam tahun lalu saya ditugaskan di tanah kelahiran, Kudus, dan setahun belakangan merangkap di Semarang. Mau tidak mau harus lebih serius menyatu dengan karakter orang-orang yang halus, tetapi sangat kuat. Itu kalau mau berhasil. Tidak gampang. Sering kejeglong. Kena hantaman juga.

Suatu saat saya berjanji untuk membiayai Bakar-bakar Jurnalistik. Yaitu bakar-bakar ikan, sosis, ayam, dan kambing yang dilakukan wartawan Radar Semarang. Itu untuk meredakan ketegangan setelah empot-empotan mengejar dead line. Kebiasaan saya terbuka. “Bilang saja kalau mau bakar-bakar lagi, saya sediakan uangnya,” kata saya kepada para wartawan. Secara khusus pesan itu juga saya sampaikan kepada pemimpin redaksi.

Sampai hitungan minggu tidak ada orang yang menjapri mengenai kegiatan bakar-bakar. Mungkin sungkan atau takut. Tiba-tiba ada video parodi minta-minta sumbangan yang diunggah di grup WA. Di ujung video itu diberi teks, “Iuran tadi bukan untuk dek haryanto yg lagi pusing bayar kos, tapi buat bakaran jusrnalistik guys… sponsor klaim by pak baehaqi.” Tulisan aslinya seperti itu. Saya tertawa meski perasaan seperti disambar petir.

Menghadapi orang Jawa Tengah, khususnya orang Semarang itu tidak gampang. Diperlukan sensivitas yang tinggi. Padahal mereka juga sangat sensitif. Tidak peka bisa kena bom yang terbungkus sindiran halus. Terlalu peka bisa menyinggung perasaan. Apalagi terlalu keras dan blak-blakan. Di sini saya acung jempol kepada Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Saya betul-betul belajar kepada keduanya. Bagimana menghadapi masyarakat. Berkomunikasi dengan mereka. Dan menjadi pelayan mereka. Hendi –panggilan Hendrar Prihadi- dan Ganjar –panggilan Ganjar Pranowo- bisa mengambil peran dengan santai. Bisa ketawa-ketawa juga. Itulah kunci sukses menjadi pemimpin. Selalu bisa menghadapi persoalan tanpa ketegangan.