Bangkitkan Emansipasi, Cegah Pernikahan Dini

36
Foto Kapendam IV/Diponegoro Kolonel Arh Zaenudin
Foto Kapendam IV/Diponegoro Kolonel Arh Zaenudin

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) tidak sekadar masalah infrastruktur. Kali ini TMMD juga menyasar kegiatan non fisik, yakni penyuluhan kepada remaja untuk menghindari pernikahan usia dini. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag).

Hal tersebut mengingat masih banyaknya warga negara Indonesia yang menikah di usia dini dengan alasan tradisi dan alasan lain sebagai pembenaran.

Dalam Undang-Undang nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sudah menetapkan bahwa batas usia pernikahan untuk perempuan adalah 16 tahun dan untuk pria 19 tahun, sedangkan Undang-Undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menetapkan bahwa kategori anak-anak adalah mereka yang berusia dibawah 18 tahun.

Sementara Mahkamah Konstitusi (MK) dalam putusan judicial review UU Perkawinan menetapkan bahwa usia pernikahan perempuan pada usia 16 tahun adalah bertentangan dengan UUD dan meminta DPR untuk segera merevisi UU nomor 1 Tahun 1974.

Terkait dengan kegiatan tersebut, Kapendam IV/Diponegoro Kolonel Arh Zaenudin, menerangkan, masalah pernikahan dini memang persoalan yang harus menjadi perhatian bersama. Dengan alasan apapun pernikahan dini tidak bisa dibenarkan, karena dampaknya bukan hanya kepada masalah ekonomi dan sosial saja, tetapi juga berdampak kepada masalah keamanan dan pertahanan negara.

Menurut Kapendam, untuk membangun rumah tangga yang bahagia tentunya diperlukan kesiapan jasmani, rohani, ekonomi dan lain sebagainya atau singkatnya kesiapan lahir dan batin. Dari aspek sosial dan ekonimi, pasangan usia dini pada umumnya akan berkurang hak pendidikannya hingga 12 tahun, bahkan putus sekolah.

Dengan demikian mereka memiliki tingkat pedidikan yang rendah sehingga daya saing serta kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak semakin kecil dan berujung kepada kemiskinan. Kematangan emosi, serta pola fikir dan sikap usia anak yang belum stabil juga menjadi persoalan ketika mereka menemui permasalahan rumah tangga. Sering kali tindakan kekerasan dan perceraian menjadi solusi dalam menyelesaikan permasalahan keluarga. Dan yang lebih fatal, akibat belum sempurnanya organ tubuh perempuan usia dini untuk mengandung dapat menyebabkan kematian pada saat melahirkan.

“R.A. Kartini dengan emansipasinya telah memperjuangkan perempuan untuk dapat sejajar dengan laki-laki agar dapat memperoleh pendidikan dan penghidupan yang layak, tapi dengan menikah dini semua menjadi sirna dan perempuanlah pihak yang paling dirugikan,” imbuh Kapendam. (hid/zal)