Perbedaan itu Indah

171
Valentina Febby Suwardi (Dokumen Pribadi)
Valentina Febby Suwardi (Dokumen Pribadi)

RADARSEMARANG.ID, HARI Valentine memang sudah berlalu. Tapi hari tersebut akan selalu menjadi spesial bagi Valentina Febby Suwardi. Menjadi spesial karena hari itu selain hari kasih sayang, juga merupakan hari kelahirannya.

Gadis kelahiran Purbalingga 22 tahun yang lalu ini mengaku selalu dilimpahi kasih sayang khusus pada 14 Februari. Teman-temannya selalu ingat kepadanya ketika valentine. Dia juga mendapat banyak hadiah yang terkadang dua kali lipat sebagai hadiah valentine dan ulang tahunnya.

“Pokoknya seneng banget. Aku merasa lebih spesial. Banyak yang ingat ulang tahunku. Hadiah yang dikasih juga jadi double,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hadiah yang paling berkesan untuk dirinya adalah saat SMP kelas satu ketika sang ibu membelikan 30 cokelat untuk dibagikan kepada teman-temannya. Ibunya ingin semua teman sekelasnya merasakan cinta dan kasih sayang saat ulang tahunnya.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini juga mengaku bahwa berkat kelahirannya, kedua orang tuanya bisa kembali berdamai sampai sekarang. Ayah dan ibunya sebelum kelahirannya sering terlibat pertengkaran. Tapi sejak ibunya mengandung dirinya, sang ayah mulai berubah menjadi lebih baik.

“Jadi, kenapa aku dinamai Valentina Febby Suwardi ya agar dengan lahirnya aku, dapat memberikan kasih sayang dalam keluarga,” ujar putri bungsu dari 4 bersaudara ini.

Dia mengaku sedih dengan adanya orang-orang yang menghubungkan hari valentine dengan agama. Efek adanya ungkapan bahwa valentine itu haram pernah ia rasakan ketika temannya SMA tidak mengucapkan ulang tahun karena bersamaan dengan valentine yang haram mengucapkan selamat. Padahal, menurutnya, valentine hanya hari biasa yang memang lebih dikhususkan untuk memberikan kasih sayang ke sesama tanpa ada maksud dan tujuan agama tertentu.

“Memang kasih sayang harus dibagikan setiap hari. Yang dianggap sebagian orang haram mungkin karena sebagai orang timur kurang cocok mengadopsi budaya barat. Tapi kita sudah dewasa dan bijak untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk untuk diri kita sendiri. Gak salah kan kalau kita lebih menyayangi seseorang dalam satu hari?” ujar dara yang hobi menulis ini.
Ke depannya valen –sapaan akrabnya– berharap dirinya mampu menyebarkan kasih sayang di sekitarnya. Dan sebagai sesama umat manusia, bisa lebih mengasihi satu sama lain agar tercipta kehidupan yang lebih baik.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan toleransi antarmanusia. Indonesia dengan banyak suku, agama, bahasa daerah akan lebih baik jika saling toleransi antar perbedaan. Perbedaan itu indah,” pungkas gadis berambut panjang ini. (cr4/aro)