Terobsesi Profesi Guru dan Psikolog

481
Reka Yulia Haryanti.M HARIYANTO/RADRASEMARANG.ID,
Reka Yulia Haryanti.M HARIYANTO/RADRASEMARANG.ID,

RADARSEMARANG.ID, REKA Yulia Haryanti, mahasiswi Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini terobsesi dengan profesi guru profesional dan psikolog. Gadis kelahiran Rembang 1 Juli 1998 ini, ingin membangun pendidikan sebagai pondasi bangsa
supaya lebih maju dan berkembang.

“Ingin jadi guru yang menginspirasi dan berkarakter.

Sehingga bisa menciptakan generasi yang berkarakter dan inspiratif juga,” ungkap mahasiswi yang akrab disapa Rere kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (3/3) kemarin.

Profesi guru, baginya, sangat mulia tanpa mengenal pamrih. Bahkan, mahasiswa jurusan pendidikan ekonomi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosil dan Keolahragaan (FPIPSKR) semester empat ini, terbesit untuk mengajar di daerah pedalaman. Berharap, bisa membantu warga pelosok agar tidak tertinggal pendidikannya.

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru digugu lan ditiru, artinya guru harus mampu menjadi contoh yang baik bagi muridnya. Entah itu di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” tegasnya.

Mahasiswi berhijab ini menilai fasilitas pendidikan saat ini sudah cukup baik. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang kian maju, bisa memudahkan guru maupun murid untuk mengakses materi yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan.

Hanya saja, negatifnya kemajuan teknologi kerap disalahgunakan. Banyak yang belum susai kapasitas umurnya, sudah mengakses internet. Sehingga moral peserta didik terhadap guru berupa sopan santun atau unggah ungguh, mengalami degradasi. Kalau dulu sopan santun dan unggah-ungguh terhadap guru masih sangat baik,” katanya.

Meski begitu, ia terus fokus belajar menyelesaikan pendidikan akademiknya. Harapannya setelah lulus kuliah, mengikuti PPG dan melanjutkan kuliah S2 di fakultas psikologi. “Saya sangat tertarik dengan psikologi, agar bisa memahami karakter setiap orang dan ikut menyelesaikan permasalahan banyak orang,” terangnya.

Implementasinya ketika sudah menjadi seorang guru nanti, harap Rere, bisa memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan pembelajaran di kelas. Dengan memanfaatkan fasilitas, murid lebih mudah memahami dan menerima pembelajaran yang
disampaikan gurunya.

“Lebih baik dihormati karena disayangi, daripada dihormati karena ditakuti. Dekat dengan murid, namun dalam batas wajar. Memanfaatkan fasilitas dengan baik, sehingga murid bisa lebih paham apa yang kita ajarkan,” imbuh gadis yang tinggal di Semarang Timur ini. (mha/ida)