Bersatu dalam Perayaan Cap Go Meh

Kesenian Tionghoa dan Tradisional Indonesia

124
BEREBUT ANGPAO : Liong samsi Kelenteng Liong Hok Bio Magelang beraksi dan mengambil angpao di sekitar kelenteng pada perayaan Cap Go Meh Selasa (19/2). (Agus Hadianto/RADARSEMARANG.ID)
BEREBUT ANGPAO : Liong samsi Kelenteng Liong Hok Bio Magelang bersama Extra Joss Laki Go to Health, beraksi dan mengambil angpao di sekitar kelenteng pada perayaan Cap Go Meh Selasa (19/2). (Agus Hadianto/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, MAGELANG – Berbagai kesenian yang ada di Kota dan Kabupaten Magelang, Selasa (19/2) meramaikan kirab budaya Cap Go Meh. Tak hanya budaya Tionghoa, namun kesenian tradisional dan modern pun berpadu mengikuti kirab budaya sepanjang jalan.

Rute kirab budaya Cap Go Meh mengambil start dari Kelenteng Liong Hok Bio, menyusuri Jalan Pemuda (Pecinan), menuju Jalan Mataram-Jalan Sriwijata-Jalan Kalingga-Jalan Tarumanegara-Jalan Sriwijaya-Jalan Majapahit-Jalan Sigaluh dan kembali menuju kelenteng.

Tema budaya dalam persatuan dan kesatuan NKRI begitu terlihat dengan adanya berbagai unsur keberagaman, yakni pasukan paskibraka membawa bendera merah putih, replika garuda Pancasila, drumband SMA El Shadai Kota Magelang, rombongan lampion dan liong kelenteng Liong Hok Bio, serta cenggeh dan Fu Lu So. Sedangkan budaya tradisional yaitu, topeng ireng, gerasak, warok bocah, soreng, dolalak, wushu, jathilan pithik walik, butho ngosek, turonggo warsito joyo, serta reog. Kegiatan yang didukung Extra Joss bertajuk Laki Go To Health ini disambut antusias warga Magelang.

Para pemilik toko di kawasan Pecinan, meletakkan angpao dengan cara digantung di depan maupun dalam toko, agar diambil oleh barongsai maupun liong.

“Cap Go Meh artinya akhir daripada perayaan Imlek. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan dan karunia-Nya. Kita memang mengundang kesenian-kesenian daerah sekitar Kabupaten Magelang. Budaya Tionghoa ini sudah ratusan tahun menyatu sama Indonesia. Jadi, kita lestarikan terus jangan sampai luntur,” ujar Ketua Yayasan Tri Bhakti, Paul Chandra Wesi Aji atau akrab dipanggil Pak AW.

Pak AW menyebut bahwa barongsai maupun liong berkeliling dan mengambil angpao, sudah menjadi tradisi leluhur. Pihaknya sendiri sudah menyampaikan kepada masyarakat, apabila berkenan meletakkan angpao baik digantung di depan toko maupun dalam toko, di sepanjang rute pawai yang dilewati.

Sementara, Komandan Satkorcab Banser Kota Magelang Agik Sapardan menjelaskan, pihaknya secara rutin tiap tahun, ikut mengamankan pawai Cap Go Meh. Menurutnya, sikap ini sesuai dengan AD/ART Banser, yakni menjaga kerukunan umat beragama dan keutuhan NKRI. (had/lis)