LTV Belum Pengaruhi Penjualan Properti

40

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG–Makin longgarnya aturan Loan To Value (LTV) dan Financing To Value (FTV) yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) Agustus lalu, belum berpengaruh pada penjualan sektor properti. Buktinya penjualan properti di Kota Semarang cenderung stagnan pada triwulan IV/2018.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah, Rahmat Dwi Saputra mengakui relaksasi LTV memang belum berdampak signifikan pada permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Meski begitu, ada pertumbuhan harga rumah dan tanah di Kota Semarang. “Harga rumah dan tanah masih menunjukkan tren positif dan mengalami kenaikan,” katanya Senin (18/2) kemarin.

Menurutnya, harga properti residensial di pasar sekunder untuk Kota Semarang pada triwulan IV/2018 tumbuh sebesar 0,22 persen quarter to quarter (qtq) lebih lambat, dibandingkan triwulan Ill 2018 yang tumbuh sebesar 0,26 persen (qtq). Pertumbuhan harga tertinggi ini terjadi di Semarang Tengah sebesar 0,53 persen (qtq).

“Sementara pertumbuhan terendah dialami Semarang Utara sebesar 0,03 persen (qtq). Wilayah Semarang Barat tercatat mengalami pertumbuhan triwulanan tertinggi yaitu sebesar 0,70 persen (qtq), sementara pertumbuhan harga tanah terendah terjadi di wilayah Semarang Timur, sebesar 0,12 persen,” jelasnya.

Rata-rata harga properti residensial di pasar sekunder untuk Kota Semarang tumbuh sebesar 1,44 persen year on year (yoy). Angka tersebut dianggap relatif stabil dibandingkan pertumbuhan tahunan pada triwulan III/2018. “Untuk harga tanah di pasar skunder pada triwulan IV/2018, tumbuh sebesar 0,41 persen (qtq). Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan III/2018 sebesar 0,46 persen (qtq),” tuturnya.

Sementara itu, harga tanah di pasar sekunder secara tahunan mengalami pertumbuhan, namun cukup lambat, yakni 2,10 persen pada triwulan III/2018 menjadi sebesar 2,06 persen (yoy) pada triwulan IV/2018. “Pertumbuhan harga tertinggi terjadi di Wilayah Semarang Tengah sebesar 3,03 persen (yoy), sementara Semarang Utara mencatatkan pertumbuhan harga tanah terendah sebesar 0,38 persen (yoy),” jelasnya.

Namun untuk penyaluran kredit perumahan dengan segmentasi menengah ke atas, dari data yang ada malah mengalami pertumbuhan positif sebesar 10.77 persen (yoy). “Pertumbuhan properti residensial yang melambat pada triwulan IV/2018 seiring dengan penyaluran kredit konsumsi yang juga tumbuh melambat sebesar 7,72 persen (yoy). Sedangkan pada triwulan sebelumnya menjadi sebesar 7,42 persen (yoy),” tuturnya. (den/ida)