Suatu Malam di Teras Hotel Safin

72
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang
BAEHAQI-Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID, MALAM itu sudah hampir larut. Semua hidangan telah tandas. Wedang jahe, teh, dan kopi. Wakil Bupati Pati Saiful Arifin masih saja bersemangat. Menceritakan pengalamannya mengembangkan perekonomian di Bumi Mina Tani.

Safin – panggilannya – kelihatan santai. Hanya mengenakan kaos oblong yang lehernya sudah tidak presisi lagi (maaf). Jauh memperlihatkan seorang wakil bupati yang kalau di kantor sangat formal. Saya yang wartawan menjadi salah tingkah. Justru mengenakan batik (Batik tulis bakaran asli Pati. hehehe). Baju itu saya pakai sejak pagi ketika menemui Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) di kantornya. Kepala Biro Jawa Pos Radar Kudus di Pati, Abdul Rokhim mengenakan seragam kantor warna putih.

Kami ngobrol di teras lobi Hotel Safin. Hotel miliknya. Safin sendiri yang memilih tempat itu. Lampunya temaram. Dari dalam lobi tidak kelihatan. Justru dari teras itu terlihat jelas semua aktivitas di lobi. Termasuk para tamu hotel yang keluar-masuk. “Sebentar. Itu para pimpinan pabrik gula,” kata Safin kemudian beranjak menemui tamu hotel tersebut.

Safin adalah seorang pengusaha sukses yang mengembangkan sayapnya sampai ibu kota. Kemudian dia pulang kampung bergandengan dengan Haryanto untuk meraih kursi bupati dan wakil bupati. Meski sudah menjadi birokrat, dasar kepengusahaannya tak bisa dilepaskan. “Pati punya potensi yang jauh lebih besar dibanding daerah lain di sekitarnya,” ujarnya.

Luas wilayahnya tiga kali lipat dibanding Kudus, daerah tetangga yang mendominasi perekonomian di eks Karesidenan Pati. Safin berobsesi merebut dominasi itu. Moderninsasi dilakukan tetapi tidak lepas dari akarnya. Bumi Mina Tani.

Dia kembangkan peternakan, perikanan, dan perkebunan. Tidak sekedar menyusun konsep dan memprogramkannya di pemerintahan. Safin memberi contoh. Dia bikin ketiga-tiganya. Atas biaya sendiri. Kalau ekonomis baru dikembangkan ke masyarakat. “Suatu saat, Pati akan menjadi pemasok daging ayam ke Jakarta yang potensial,” obsesinya.

Ketika lagi demam durian, dia juga menanamnya. Di lahan milik sendiri. Katanya, tidak banyak. Tetapi dia menyebut satuan hektare. Di dalamnya ada kelengkeng dan alpukat serta tanaman buah lainnya.

Durian yang ditanam tidak sembarangan. Jenis Musang King. Harga sekilogramnya jauh melebihi durian montong. “Sekarang sudah mulai berbuah. Nanti kalau sudah panen saya ajak ke sana,” janjinya.

Safin sangat serius mengembangkan Bumi Mina Tani. Ketika mengetahui Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN, mengembangkan pompa bertenaga matahari untuk mengairi perkebunan dia tertarik. Safin mengajak saya untuk melihat proyek Dahlan itu di Jombang. Berangkat setelah subuh dengan
mobilnya. Di Jombang dia acak-acak seluruh kebun milik Dahlan.

Puas melihat proyek pompa di Jombang, Safin mengajak untuk menemui Dahlan. Saya antar ke rumahnya di Surabaya hari itu juga. Pak Dahlan menyambutnya dengan senang hati. Kebetulan di rumahnya itu ada beberapa set pompa solar sell yang sedang dirakit. Safin tertarik. Dahlan menawarinya. “Kalau mau silakan bawa,” katanya saat itu.