Filantropi Islam Solusi Pengentasan Kemiskinan

383

RADARSEMARANG.ID, JAKARTA – Kemiskinan masih menjadi permasalahan utama di dunia khususnya di Indonesia. Berdasarkan data dari Bank Dunia, tercatat tahun 2017 terdapat 10,7 persen atau sekitar 767 juta orang dari populasi global berada dalam jurang kemiskinan. Di Indonesia sendiri terdapat sebesar 25,67 juta penduduk miskin, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2018 .

Hamdan Zoelva selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat/Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam (SI) ketika menerima kunjungan silaturahmi dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Rabu (13/2) lalu menuturkan, permasalahan kemiskinan ini tidak hanya di Indonesia tetapi juga sangat dirasakan di negara-negara konflik. Kehidupan mereka semakin sulit karena konflik yang berkepanjangan. Untuk di Indonesia, menurutnya kemiskinan masih berada di angka yang cukup tinggi. Permasalahan inilah yang juga menjadi konsen SI.

Sebagai salah satu organisasi tertua di Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 1905 dengan nama Sarekat Dagang Islam (SDI), SI memang bertujuan untuk mengembangkan perekonomian dan kehidupan sosial umat. Walaupun tahun 1912 dibawah pimpinan HOS Tjokroaminoto, SI pernah terlibat ke arah politik, namun saat ini dibawah pimpinan Hamdan Zoelva, SI kembali ke khittahnya berjuang dibidang ekonomi, sosial dan keagamaan. Karena menurut Hamdan, dengan membangkitkan aktivitas sosial dan ekonomi dalam artian filantropi Islam inilah salah satu solusi pengentasan kemiskinan di Indonesia maupun dunia.

“Di Indonesia kalau kita pakai ukuran BPS itu sekitar 10 persen masyarakat Indonesia hidup dalam kemiskinan. Kalau menurut Bank Dunia, angka kemiskinan kita sekitar 40 persen, tinggi sekali. Ini masalah besar bagi kita semua, khususnya umat Islam. Filantropi menjadi solusi kemiskinan yang kita hadapi,” ujar Hamdan.

Hamdan yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Keempat periode 2013-2015 menyebutkan, filantropi Islam seperti wakaf, zakat, infak, dan sedekah dapat mengatasi masalah umat dan kemanusiaan, bukan untuk tujuan perseorangan.

“Inilah inti dari ajaran Islam. Kenapa kita diwajibkan zakat dan dianjurkan sedekah dan wakaf karena dijanjikan kalau menanam satu akan tumbuh 700 untuk yang melakukan. Inilah kenapa kita dorong karena tentu sangat bermanfaat dan efeknya ini luar biasa untuk pemberdayaan umat dan pemberantasan kemiskinan,” lanjut Hamdan.

Hamdan menjelaskan, salah satu upaya pengentasan kemiskinan tersebut yaitu melalui pengembangan dana wakaf sebagai filantropi tertinggi dalam Islam. “Kalau kita kembangkan dana wakaf dan ini akan terus berputar untuk umat dan bermanfaat  bagi umat. Ini pelan-pelan dan pasti akan mengatasi masalah kemikinan di Indonesia karena kita libatkan bersama-sama masyarakat. Hasil pengelolaan wakaf produktif itu tidak untuk perseorangan tapi untuk investasi dan diputar untuk usaha produktif,” ungkapnya.

Pendapat Hamdan diamini oleh Iqbal Setyarso selaku Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT). Menurutnya, sebagai ikhtiar menjadikan filantropi Islam sebagai solusi pengentasan kemiskinan dan permasalahan lainnya yang dihadapi umat Islam, ACT tahun ini mengusung tema The Rise of Islamic Filantrophy (TRIP).