Asperindo Selektif Pilih Maskapai

85
Tony Winarno (ISTIMEWA)
Tony Winarno (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG–Tarif surat muatan udara (SMU) beberapa maskapai penerbangan kian mahal. Hal itu disiaati oleh Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik (Asperindo) dengan memilih moda transportasi penerbangan secara selektif.

Ketua Asperindo Jateng, Tony Winarno, mengungkapkan bahwa sebelumnya terjadi terjadi embargo yang dilakukan oleh Garuda Group kepada salah satu anggota Asperindo yakni JNE. Namun embargo tersebut telah berakhir pada 12 Februari. Dari pengalaman tersebut Asperindo bernecana mereview kembali layanan kargo udara domestik.

“Masalah embargo sudah diselesaikan, namun kami akan mereview ulang untuk melalui jalur darat. Kalau urgen, baru menggunakan kargo,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Ia menegaskan, tidak melakukan boikot kepada Garuda Group, namun memilih melakukan review ulang. Namun, jika SMU dinaikkan dan harganya dinilai kurang kompetitif, pihaknya akan memilih maskapai lainnya. “Sebagai customer, bisa me-review angkutan yang digunakan,” tambahnya.

Ia mencontohkan, pengiriman logistik yang berasal dari wilayah Jateng, Jabar, Medan, DIJ, Jatim dan Bali, memiliki lebih dari 1000 ton kiriman. Jumlah itu belum ditambah ke kota-kota lain. Jika ada maskapai yang menaikkan harga yang tidak wajar, Asperindo siap me-review sebagai konsumen. “Konsumen bisa memilih moda transportasi dengan harga yang kompetitif, salah satunya memilih maskapai untuk kargo udara,” ucapnya.

Untuk transportasi darat khususnya pengiriman domestik, Asperindo bisa menggunakan tol Trans Jawa ataupun menggunakan kereta api (KA). Saat ini, Asperindo mengusahakan memiliki pesawat kargo dan terminal kargo sendiri. Rencananya pesawat itu akan menerbangi kota-kota besar di Indonesia.

“Dari Asperindo pusat sedang merancang membuat konsorsium logostik pengiriman melalui pesawat kargo. Jika ini beroperasi, akan membantu pelaku UMKM di daerah. Rencana ada lima pesawat dari beberapa perusahaan,” tuturnya.
Sementara itu, Branch Manager JNE Semarang Wahyu Sangerti Alam, menerangkan jika embargo yang dilakukan maskapai Garuda Group kepada JNE tidak begitu dirasakan JNE terutama di wilayah Jateng dan Semarang. “Kalau dari kami tidak ada penurunan omzet, barang-barang logistik kami kirim tidak ada yang terlambat,” katanya.

Ketika dilakukan embargo, lanjut Wahyu, JNE sebagai anggota Asperindo langsung melakukan koordinasi dan mengalihkan paket yang harus dikirim melalui kargo ke maskapai lain. Padahal JNE menyumbang 30 persen dari sekian ton dari total jatah kargo udara yang dimiliki Asperindo. “Kami gunakan maskapai lain, selama embargo berlangsung,” pungkasnya. (den/ida)