Akhir Februari, Pompa Kali Tenggang Terpasang

80

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Sampai sekarang, pemasangan pompa di Kali Tenggang belum juga selesai. Padahal, pompa tersebut nantinya dapat memaksimalkan penanganan banjir di Kota Semarang.

Kepala BBWS Pemali Juana, Ruhban Ruzziyatno, menuturkan, akhir Februari ini, pompa akan terpasang semua. “Jika proses penerapan pompa dapat berlangsung secara maksimal, maka terdampak banjir di sekitar Kali Tenggang dimungkinkan tidak akan ada lagi,” ujar Ruhban, Jumat (15/2).

Diketahui, Kali Tenggang memiliki daerah tangkapan air atau Catchment Area yang luas. Daerah tangkapan tersebut mencapai 25 km persegi. Dari jumlah penduduk sekitar 600 ribu jiwa di sekitar lokasi, terdampak banjir diperkirakan mencapai 400 ribu jiwa bila air melimpah. Tentunya dengan adanya pompa di Kali Tenggang akan mampu mengurangi wilayah yang berpotensi terdampak banjir. Sayangnya, pemasangan belum selesai secara keseluruhan.

Meski secara posisi Kali Tenggang di atasnya ada kolam retensi Banjardowo, Genuk, yang pembangunannya telah selesai, belum semua mampu menampung debit air apabila melimpah. Padahal kapasitas dari kolam retensi tersebut mencapai 33 ribu meter kubik. Adapun rute jalannya air, yaitu ketika memasuki kolam retensi Banjardowo, air akan dipompa untuk dibuang ke Sungai Babon. Beberapa titik pompa yang saat ini terpasang, membantu mengurangi debit air yang besar di daerah atas.

“Melalui pompa terintegrasi, luapan air juga diharapkan bisa dikurangi sebelum mencapai Sungai Bringin yang berada di bawah,” katanya.

Konservasi di Sungai Bringin dulu sebenarnya telah cukup bagus dengan konsep perhutanannya. Namun sejak konsep pembangunan perumahan mulai merambah kawasan tersebut, akhirnya diperlukan penanganan lingkungan berkelanjutan. “Siklus hidrologi sebenarnya berlangsung normatif dan tetap. Dimulai dari hujan, airnya kemudian disimpan melalui resapan kawasan hutan, dan sebagian lagi air mengalir melalui sungai,” ujarnya.

Itu adalah konsep Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ideal. Hasilnya, apabila terjadi hujan deras tidak akan membuat banjir wilayah sekitar. Serta saat musim kemarau tidak mengakibatkan terjadinya krisis air.

Sementara kondisi yang ada saat ini, bila hujan deras, maka airnya secara langsung mengalir keseluruhan ke laut. Membuat sebagian besar sungai seringkali melimpah. Selain itu, melalui peraturan baru pemerintah saat ini setiap bangunan di bantaran sungai harus memiliki izin. Adanya izin setiap pembangunan di bantaran bertujuan untuk memudahkan penanganan normalisasi sungai. “Namun memang seharusnya tidak diperbolehkan adanya bangunan di bantaran sungai,” katanya. (ewb/aro)