Saksi Kasus Bank Salatiga Diperiksa Tujuh Jam

64

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA – Kuasa hukum mantan direktur Bank Salatiga M Habib Sholeh (MHS) optimistis fakta di persidangan akan membuka kebenaran materiil. Sehingga bisa diketahui siapa pelaku utama dan siapa otak sebenarnya dari permasalahan yang disebut merugikan hingga Rp 24 miliar.

“Menurut kami, MHS menjadi terdakwa hanya karena jabatannya, merupakan risiko pekerjaan yang tidak fair,” tandas Handrianus Handyar Radhitya SH, kuasa hukum MHS kepada wartawan usai persidangan lanjutan di pengadilan Tipikor Semarang.

Dalam sidang lanjutan di PN Tipikor Semarang pada Selasa (12/2) dengan agenda pemeriksaan saksi tersebut, memakan waktu hingga tujuh jam lamanya dan selesai kisaran pukul 21.00. Sidang dipimpin hakim ketua Andi Astara SH MH, hakim anggota Kalimatul Jumro SH MH, hakim anggota Edi Set Jengkaria SH CN MH, Panitera pengganti Siti Rikhana.
Kemudian dari Jaksa Penuntut Umum Nizar Febriyansah SH dan Fajar Yuliyanto, sedangkan terdakwa di dampingi oleh kuasa hukum di antaranya Ign. Suroso Kuncoro SH MH, Handrianus Handyar R SH CIL, dan Nur Komarudin SH.

Saksi yang dihadirkan yakni Asih Setyaningsih (Plt Direktur Bank Salatiga), Sutriarianto (kabag di bank Salatiga) serta Granulita PEAI (Pengawas Eksekutif Audit Internal). Menurut Handrianus, terungkap dalam fakta persidangan bahwa awalnya kasus ini ditemukan oleh PEAI adanya selisih saldo kurang lebih Rp 23 M.

Namun dari pemeriksaan PEAI, selisih tersebut dilakukan oleh beberapa oknum lain dan bukan direktur. Kisaran yang disalahgunakan mencapai Rp 1,9 M sampai Rp 9 M. Bahkan terungkap pula ada beberapa deposito yang dikelola dengan cara adanya kecurangan dalam billyet deposito yang tidak masuk sistem bank.

“Bahkan direksi mengungkap adanya database bayangan yang dibuat untuk mengelabuhi laporan keuangan. Dari temuan tersebut sudah diakui pelaku dan kemudian direksi melakukan pemecatan,” jelas Handrianus.

Selain itu, dibuktikan dengan surat pernyataan yang dibuat oleh staf yang bergelar sarjana hukum dan intinya menyatakan bahwa adanya penyimpangan yang dilakukan oleh oknum dan MHS tidak menggunakan uang yang disalahgunakan tersebut.

Sementara Plt Direktur Asih Setya Ningsih menuturkan jika dirinya menjadi saksi sekitar tiga jam. Banyak pertanyaan yang dijawab sesuai dengan pengetahuannya. Disinggung mengenai surat pernyataan, Asih menjelaskan jika surat itu memang dibuat oleh semua karyawan atas permintaan direktur. (sas/bas)