Sudah Tiga Kali Daftarkan Merek, Tak Membuahkan Hasil

Irvan Hidayah dan Dwi Hafiarni, Pasutri yang Fokus Kerajinan Kulit

43
PRODUK LOKAL: Dwi Hafiarni memamerkan tas kulit produksinya (DEWI AKMALAH/RADARSEMARANG.ID)
PRODUK LOKAL: Dwi Hafiarni memamerkan tas kulit produksinya (DEWI AKMALAH/RADARSEMARANG.ID)

Di Semarang, ada sentra pembuatan kerajinan kulit. Tepatnya di bilangan Jalan Erowati, Bulu Lor, Semarang Utara. Kerajinan handmade ini dikelola oleh Irvan Hidayah dan istrinya, Dwi Hafiarni.

DEWI AKMALAH

RADARSEMARANG.ID, SELAMA ini, Tanggulangin Sidoarjo dikenal sebagai sentra kerajinan kulit. Rupanya di Kota Atlas pun ada home industry kerajinan kulit. Yakni, kerajinan kulit yang dikelola Irvan Hidayah.
Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Irvan menceritakan mengenai usahanya tersebut. Pada awalnya usaha tersebut dikelola oleh ayahnya. Barang yang dibuat pun hanya berupa dompet. Setelah diwariskan kepada dirinya, Irvan mulai mengembangkan berbagai produk lain. Seperti tas, dompet, sepatu, suvenir dan gantungan kunci. Dalam produksi, Irvan dibantu kurang lebih 10 pekerja.

“Sampai sekarang saya tetap mempertahankan bahan baku kulit sebagai ciri khas produk. Saya memberikan garansi apabila jahitan rusak. Untuk bahan baku kulit saya peroleh dari Magetan dan Jogjakarta,” ujar Irvan.

Saat ditanya pemasaran produk, Irvan mengakui sang istri, Dwi Hafiarni, yang lebih memahami. Sebab, selama ini dia hanya bertanggung jawab mengenai produksi saja. Sedangkan mengenai pemasaran sang istri jauh lebih memahami.

Dwi Hafiarni menjelaskan, saat ini dalam memasarkan produk, dia melakukannya secara online. Tapi juga dia membuka gerai offline di depan rumahnya. Guna mengenalkan produknya, dia mengaku telah mengikuti sejumlah pameran yang diselenggarakan oleh Inacraft dan Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Ambon pada 2015. “Produk saya bahkan telah diikutkan Festival Tong Tong yang diselenggarakan di Den Haag Belanda,” ujarnya bangga.

Dalam memenuhi permintaan pelanggan, Dwi juga menerima desain dari pelanggan. Tapi, jika menggunakan desain sendiri, dia menetapkan minim order. Karena jika pembelian sedikit dilayani akan menghabiskan modal mengingat bahan baku berupa kulit sangat mahal harganya. Pesanan terbanyak yang pernah ia dapat adalah ketika ada pesanan suvernir tas batik dari Garuda Indonesia sebanyak 2.500 buah.

Dwi mengaku, stereotipe masyarakat sekarang mengenai produk kulit dirasa cukup mengganggu. Mengingat banyaknya produk kulit palsu yang beredar mengakibatkan masyarakat meragukan akan keaslian produk kulit ciptaannya. Selain itu, juga harga kulit yang tidak stabil, membuatnya harus selalu menghitung pengeluaran dalam membeli bahan baku tersebut.

“Mungkin karena masyarakat banyak yang tertipu dengan produk kulit palsu, sehingga banyak yang meragukan produk saya,” ujar Dwi.

Kerajinan kulit yang diciptakan Dwi Hafiarni dan Irvan Hidayah diberi nama “Zawa”. Sejak 2014 hingga sekarang, Dwi mengaku sudah 3 kali mencoba mendaftarkan merek produknya ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM. Akan tetapi prosesnya selalu berhenti ditengah jalan dan tidak ada kelanjutannya.

Ke depannya, dia berharap agar pemerintah mempermudah pendaftaran merek produk. Sehingga Dwi dapat pengakuan atas hak ciptaanya. Selain itu juga mengenalkan brand kerajinan kulit dari Semarang juga dapat bersaing dengan daerah lainnya. “Produk kulit sekarang tidak hanya dari Magetan dan Jogja, tapi sekarang produk kulit dari Semarang juga tidak kalah bagus dan bersaing,” katanya. (*/aro)