DBD Meluas di 11 Kecamatan

100

RADARSEMARANG.ID, KENDAL – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kendal mulai mewabah. Dari Januari hingga pekan ini tercatat sudah ada 18 kasus warga yang terserang penyakit yang disebabkan serangan Nyamuk Aedes Aegypti tersebut.

Penyakit tersebut tidak hanya menyerang anak-anak tapi juga orang dewasa. Jumlah kasus tersebut diperkirakan masih akan meningkat selama musim penghujan ini. Terlebih, kesadaran warga untuk menjaga kebersihan lingkungan masih kurang.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kendal, Ferinando Rad Bonay mengatakan 18 kasus DBD tersebut tersebar 11 Kecamatan di Kendal. Tingginya kasus DBD di Kendal menurutnya lantaran kurang kesadaran warga untuk menjaga kebersihan lingkungannya. Yakni untuk melakukan gerakan pembrantasan sarang nyamuk (PSN). “Upaya yang kami galakkan saat ini adalah PSN dan fogging di daerah yang sudah masuk kategori endemik atau sudah ada warga yang terjangkiti,” jelasnya.

Namun untungnya, 18 penderita DBD tersebut diakuinya sudah tertangani dengan baik oleh pihak rumah sakit yang menanganinya. Sehingga semua sudah berhasil disembuhkan. Jika dibandingkan tahun lalu pada tahun yang sama, jumlah penderitanya lebih tinggi. Sebab, tercatat selama Januari-Februari 2018 ada delapan kasus saja. Artinya ada peningkatan 125 persen.

Upaya penanggulangan DBD dengan Fogging diakuinya tidaklah solutif, kecuali pada daerah yang endemik. Tindakan efektif untuk pembratansanya nyamuk adalah dengan PSN dan 3M yakni menguras, menutup dan mengubur.

Ia juga menggalakkan sekolah bebas jentik nyamuk. Yakni dengan memberdayakan sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtida’ (MI) institusi atau satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan masyarakat. Hal ini penting, karena nyamuk Aedes Aegepti bisa menyerang dimanapun dan kapanpun. Terutama saat pagi dan sore hari.

“Barangkali si anak lingkungan rumahnya sudah bersih dan bebas nyamuk. Tapi lingkungan sekolah tidak mendukung. Inilah yang harus diantisipasi oleh para guru dan tenaga pendidik lainnya,” tandasnya.

Ia juga berkoordinasi dengan kecamatan, desa dan penggerak PKK untuk menginformasikan tentang DBD dan tindakan Foggingg maupun PSN. Selain itu mengaktifkan juru pemantau jentik (jumantik) di sekolah dan desa sampai ketingtakan RT. Tahun ini untuk pemberantasan DBD kami anggarakan Rp 200 juta,” terangnya.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Muntoha, mengatakan kasus DBD tahun 2017 total ada 61 kasus. Satu diantaranya meninggal dunia. Sedangkan di 2018 total ada 33 kasus dan satu diantaranya meninggal dunia. (bud/bas)