Atasi Rob dan Banjir, Tambah Kolam Retensi

78

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Kolam retensi yang ada di Kota Semarang saat ini dinilai masih belum mampu menampung curahan air hujan saat terjadi overload. Karenanya, pihak Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang akan menambah jumlah kolam retensi. Penambahan kolam retensi secara khusus akan dilakukan di wilayah-wilayah tertentu. Seperti untuk menampung suplai air dari Sungai Tenggang.

Menurut Plt Kabid Drainase DPU, Isworo Syamsul Hadi, saat ini beban Sungai Tenggang dan Sringin lebih berat. “Kalau hanya membebankan di Kali Tenggang dan Sringin saya rasa sudah tidak bisa. Kolam-kolam retensi pun akan mendukung kolam-kolam retensi besar. Meliputi, kolam retensi Muktiharjo, Rusunawa Kaligawe, Pasar Waru, dan Banjardowo,” kata Isworo, Senin (11/2).

Hasil kajian dari DPU Kota Semarang, saat ini masih dibutuhkan sedikitnya 10 kolam retensi pendukung. Kapasitas per kolam sedikitnya mampu menampung air 5.000 sampai 10.000 meter kubik. “Kolam retensi tambahan itu digunakan untuk area parkir air di sekitar sistem drainase Kali Tenggang dan Sringin. Rencananya, secepatnya dibuat tahun 2019 ini. Namun yang jelas akan bertahap. Karena anggarannya terbatas,” tukasnya.

Selain kolam retensi, drainase pendukung juga akan diperbaiki. Supaya saat air overload karena tingginya intensitas hujan aliran air tidak terhambat. “Semua sistem polder harus saling mendukung satu kesatuan. Tidak lagi terpisah-pisah,” katanya.

Tentunya, hal tersebut juga memperoleh dukungan dari pihak BBWS Pemali Juana.

Kepala BBWS Pemali Juana, Ruhban Ruzziyatno, mengatakan jika masalahnya dalam pembangunan tersebut berasal dari anggaran, tentunya hal itu bisa diakali.
“Pemerintah pusat fokus untuk pekerjaan infrastruktur. Apalagi terkait penanggulangan masalah rob di Semarang. Saya kira untuk urusan pendanaan akan bisa dibantu dengan koordinasi stakeholder yang baik,” ujar Ruhban.

Dikatakannya, BBWS Pemali Juana saat ini juga sedang fokus penanganan rob maupun banjir di Kota Semarang. Dari analisa BBWS Pemali Juana, terjadi elevasi air tinggi namun muka air tetap. Setelah penelusuran yang dilakukan oleh BBWS Pemali Juana, ternyata sistem pompa tidak bisa lancar.

Ia mencontohkan tidak lancarnya sistem pompa di Pasar Waru. Pompa di tempat tersebut tidak bisa berjalan lancar dikarenakan terjadi elevasi tinggi, namun muka air tetap. “Nunggu air banyak yang masuk. Ternyata banyak sedimentasi saluran yang masuk pompa Pasar Waru,” ujarnya.

Selain itu adanya saluran intek yang kurang lebar. Hal serupa juga terjadi di pompa Muktiharjo. Di mana banyak sedimentasi di kolam retensi Muktiharjo. “Drainase harus diberesi, seperti yang juga terjadi di Sungai Pacar. Agar semua air bisa masuk cepat ke kolam retensi,” tuturnya.

Menurut Pakar Hidrologi Unissula, Imam Wahyudi, persoalan drainase di Kota Semarang memang tidak akan pernah usai. “Sistem polder memang demikian selalu banyak permasalahan dan tantangan. Karena alih fungsi lahan dan banyak alasan lain,” kata Imam.