Semangat Emak-Emak untuk Senyum Prabangsa

155
Direktur Jawa Pos Radar Semarang (Oleh: Baehaqi)
Direktur Jawa Pos Radar Semarang (Oleh: Baehaqi)

RADARSEMARANG.ID, SABTU, 9 Februari 2019, saya membatalkan perjalanan Kudus – Surabaya untuk pulang kampung. Itu Hari Pers Nasional (HPN). Hari kebesaran insan pers di mana saya telah 34 tahun bergabung di dalamnya. Tak elok untuk mengabaikannya.
Sebenarnya di Surabaya juga ada peringatan HPN. Saya bisa mengikutinya. Malah, dihadiri Presiden Joko Widodo. Tetapi, saya memilih bermanufer. Menempuh perjalanan Kudus – Semarang – Magelang – Jogjakarta – Surabaya. Di Magelang stay sejenak. Ada
acara kecil yang diselenggarakan oleh Jawa Pos Radar Semarang di SMK Citra Medika Magelang. Pelatihan guru menulis.

Pesertanya memang bukan wartawan. Tetapi para guru. Jumlah peserta 71 orang. Sebagian besar emak-emak. Dibimbing langsung oleh Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Semarang Arif Riyanto. Kalau para guru pintar menulis, kelak akan memperkuat tulisan wartawan di media massa. Saya mengapresiasi. Rela menyambangi meskipun hanya beberapa menit. Sekadar untuk berselfie bersama peserta.

Itulah salah satu kegiatan nyata yang dilakukan oleh Radar Semarang untuk menghidupkan pers di tanah air. Sama sekali tidak ada hura-hura. Sambutannya luar biasa. Tepuk tangan gemuruh ketika saya mengatakan, “Hari ini adalah Hari Pers Nasional dan para guru mengisinya dengan berlatih menulis.”

Jawa Pos Radar Semarang sangat peduli menjembatani. Kegiatan itu sudah puluhan kali dilakukan. Pesertanya dari berbagai daerah. Bahkan, ada guru dari Kepulauan Riau (Kepri) yang inden, mendaftar untuk kegiatan berikutnya.

Hampir bersamaan dengan kegiatan di Magelang, Presiden Joko Widodo menghadiri puncak peringatan HPN di Surabaya. Acaranya biasa saja. Tetapi, usai acara presiden memberi kabar istimewa. Pemimpin Redaksi Jawa Pos Abdul Rokhim menanyakan remisi yang diberikan pemerintah kepada I Nyoman Susrama, otak pembunuhan terhadap wartawan Jawa Pos Radar Bali Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa. Presiden mengatakan telah mencabutnya (remisi tersebut).

Remisi berupa pengurangan hukuman dari seumur hidup menjdi 20 tahun penjara itu melukai hati insan pers. Bahkan seluruh masyarakat Indonesia yang peduli keadilan. Betapa tidak? Prabangsa dengan idealismenya mengungkap kasus penyelewengan justru dibunuh secara keji (11 Februari 2009). Mayatnya ditemukan di laut seminggu kemudian.

Ketika remisi dikeluarkan, para insan pers sempat lunglai. Saya juga. Apalagi remisi itu dikeluarkan di saat media massa cetak terpuruk oleh desakan media digital dan media sosial. Seolah wartawan media cetak tidak dihargai lagi. Maka pencabutan remisi seolah menjadi angin segar yang membangkitkan semangat kewartawanan kami.

Saya bersyukur dalam kondisi yang sulit itu ada angin segar lainnya. Dalam evaluasi tahunan di Madiun, Rabu (6/2) minggu lalu, Jawa Pos Radar Semarang yang saya pimpin menunjukkan prestasi gemilang. Membawa pulang piala. Memang belum juara satu. Tetapi juara tiga Business Performance Achievement Jawa Pos Radar Group. Di grup perusahaan itu terdapat 18 perusahaan. Satu perusahaan lainnya yang juga saya pimpin, Radar Kudus, meraih juara harapan.