Mengulik Prostitusi Terselubung Kota Atlas (2-Habis)

Sehari Pernah Layani 10-12 Tamu, jadi Jujugan Mahasiswa

119
LAYANAN PRIMA: Terapis di salah satu spa plus-plus di Kota Semarang.
LAYANAN PRIMA: Terapis di salah satu spa plus-plus di Kota Semarang.

RADARSEMARANG.ID, Praktik prostitusi berkedok spa, salon, dan pijat bukan rahasia umum lagi. Bisnis esek-esek ini cukup menjamur di Kota Lunpia. Sebab, bisnis haram ini sangat menjanjikan bagi para pekerja maupun pengelolanya.

DUA tempat spa dan pijat yang menyediakan bisnis syahwat sudah dicoba koran ini. Kali ini, wartawan Jawa Pos Radar Semarang mencoba menelisik salah satu salon plus-plus di wilayah Semarang Barat. Namanya Salon A. Lokasinya di tepi jalan besar yang padat lalu lintasnya. Dari luar memang tidak ada papan nama salonnya. Namun bagi para pencari kepuasan seks, tempat ini cukup dikenal.

Salon ini menyediakan pijat plus-plus. Penikmatnya rata-rata yang kantongnya tidak terlalu tebal. Tarif pijat satu jam di tempat ini di kisaran Rp 150 ribu sudah mendapat tambahan plus-plus.

Bagi orang awam, bakal kesulitan menemukan tempat ini, sekalipun berada di tepi jalan yang padat lalulintasnya. Berbeda dengan warga yang sudah sering berkunjung atau masyarakat sekitar salon.

“Oh, di situ, Mas. Pijat yang beginian kan. Saya juga pernah,” ungkap seorang pria sambil menujuk ke arah salon kebugaran gairah itu.

Terlihat tempat tersebut tidaklah sangat mencolok. Dari depan hanyalah bangunan dan kaca tanpa ada nama yang jelas tempat usaha salon atau spa. “Masuk Mas, pijat,” ungkap lirih perempuan berambut sebahu.

Setidaknya di dalam salon tersebut terdapat lima perempuan berusia di kisaran 40-an tahun alias STW (setengah tuo). Mereka terlihat saling ngobrol. Ada juga yang sibuk dengan gadget¬-nya. Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menunjukkan tempat pijat. “Masuk situ, Mas,” ucap perempuan bertubuh semok sambil menunjukkan kamar pijat.

Ruangan itu berukuran sekitar 3 x 4 meter. Di dalamnya terdapat dipan dengan kasur busa dan satu bantal. Kamar tersebut tak terdapat pintu penutup, hanya dipasangi kain gorden. Namun di luar akses menuju ruangan tersebut terdapat pintu penutup.

Sebelum aktivitas pijat dimulai, pengunjung diminta menanggalkan pakaian atas dan celana panjang. Sehingga hanya mengenakan celana pendek. Terapis STW itu sebuh saja Sekar itu lalu membuka tas kecil dan mengeluarkan sebotol lotion yang akan digunakan untuk memijat. “Pakai handbody ya, Mas,” tutur Sekar sambil memijat di bagian kaki.

Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Koran ini pun coba membuka obrolan. Perempuan asal Wonosobo ini mengaku sudah hampir 5 tahun mengadu nasib di Kota Semarang. Sekar meninggalkan kampung halamannya semata-mata untuk mencari pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Dulu pernah belajar mijat. Kalau mijat seperti ini, ya ada yang mijitnya tenanan, tapi ada yang mijitnya hanya di pegang-pegang saja, ora tenanan (tidak serius, Red),” katanya.

Dikatakan Sekar, ada lima perempuan pekerja di tempat tersebut. Namun tidak setiap hari ramai didatangi pelanggan. “Ya tidak tentu, tidak bisa diprediksi. Kalau malam minggu malah sepi. Ya, mungkin ada yang acara sama keluarganya atau sama pacarnya. Di sini tutup sampai jam 21.00,” ucapnya.

Ia menyebutkan, pelanggan yang datang sebagian besar kalangan remaja dan orang dewasa. “Rata-rata anak muda, kebanyakan anak kuliah,” akunya.

Menurutnya, pendapatan setiap harinya juga tidak bisa ditentukan, tergantung ramai tidaknya pengunjung. Namun ia selalu bersyukur dengan pendapatan yang diperolehnya, karena sudah cukup untuk keperluan sehari-harinya. Sebab, tak jarang, pengunjungnya memberikan uang Rp 200 ribu, yang sudah melebihi tarif pijat, termasuk plus-plus. Terpenting fokus dan memberikan servis kepuasan secara maksimal.

“Sehari mijet sak kuate, 10-12 (kali) aja pernah, ya tidak sampai jam-jaman,” katanya sambil tersenyum.

Diakui, pijat yang dilakukan hanya jadi kedok saja. Sesungguhnya yang diharapkan para terapis tetap pijat plus-plus. Sebab, begitu pelanggannya puas, tentu nggak jadi pijat sampai 1 atau 2 jam. Sehingga tak harus menunggu lama, sudah bisa melayani pelanggan lain. Dengan begitu tip yang didapat pun semakin besar. “Kebanyakan pijat sebentar, langsung cuscus. Nggak usah pakai babibu,” ucapnya genit.