Terkendala Minimnya Perajin, Pemasaran Terbantu Medsos

Mualit dan Suyanti, Warga Pakintelan yang Tekuni Kerajinan Rotan

66

“Dulu ada 30 orang perajin, namun sejak krisis moneter tinggal sedikit. Rata-rata pindah profesi. Anak muda zaman sekarang juga enggan bekerja beginian. Sekarang tinggal 5 orang perajin saja,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya berharap pemerintah turut memperhatikan pelaku usaha kerajinan seperti dirinya dengan membantu promosi dan permodalan. Untuk mempertahankan produksinya, di sela-sela kesibukan, keduanya, memproduksi lebih banyak untuk pembuatan kerajinan keranjang dan rak-rak bunga, karena ia merasa jenis tersebut peminatnya cukup menjanjikan dibandingkan lainnya. Ia juga memastikan, kerajinan rotan hasil buatannya mampu bertahan tahunan.

Untuk produknya sendiri, dibanderol mulai harga Rp 15 ribu untuk jenis pot bunga kecil, dan Rp 150 ribuan untuk jenis rak bunga. Produknya pernah dibeli sejumlah pejabat lokal, di antaranya Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang yang juga istri Wali Kota Semarang, Tia Hendrar Prihadi; Camat Gunungpati Ronny T Nugroho, dan Lurah Pakintelan Dody Priyanto, saat pameran dilaksanakan di kelurahan setempat. “Dulu dibeli ibu Hendi 4 buah, kami senang sekali. Kalau pemesan datang, sekali bisa ambil 300 sampai 400-an buah, cuma ndak mesti pesanannya ada terus,”ujarnya.

Untuk memaksimalkan produksi warganya, Lurah Pekintelan Dody Priyanto mengaku telah menetapkan kampung tersebut menjadi kampung tematik Krabatan atau kerajinan bambu dan rotan. Dikatakannya, di wilayahnya memang banyak pengrajin rotan, yang totalnya ada 5 kelompok. Namun demikian, tak dipungkiri saat ini masih terkendala pemasaran dan modal. “Kendala kita di promosi. Kita sudah ada galeri dan showroom, tapi bangunannya belum bisa digunakan maksimal, karena setengah tembok. Bahan ndak begitu susah, yang susah promosi dan pemasarannya,”katanya. (*/aro)