Terkendala Minimnya Perajin, Pemasaran Terbantu Medsos

Mualit dan Suyanti, Warga Pakintelan yang Tekuni Kerajinan Rotan

66
HOME INDUSTRI: Suyanti, Warga Pekintelan, Gunungpati, Kota Semarang, menunjukkan kerajinan rotan sintetis buatannya. (JOKO SUSANTO/RADARSEMARANG.ID)
HOME INDUSTRI: Suyanti, Warga Pekintelan, Gunungpati, Kota Semarang, menunjukkan kerajinan rotan sintetis buatannya. (JOKO SUSANTO/RADARSEMARANG.ID)

Dengan memanfaatkan kelenturan rotan, sepasang suami istri asal Pakintelan, Gunungpati, Semarang, Mualit dan Suyanti, mampu menciptakan produk bernilai jual tinggi. Keduanya membuat kerajinan untuk menambah pundi-pundi keuangan keluarga. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

RADARSEMARANG.ID, BERAWAL dari pengalamannya saat masih bekerja di rumah produksi kerajinan di daerah Salatiga, Mualit pun memutuskan merintis bisnis kerajinan kayu rotan sendiri di rumahnya. Hingga saat ini, ia dan istrinya, Suyanti, mampu membuat ratusan produk dan sudah dipasarkan hingga ke luar Semarang. Usaha tersebut sudah dilakoni keduanya sejak sekitar 20 tahun lalu.

Ketika Jawa Pos Radar Semarang menyambangi rumahnya di Kelurahan Pekintelan RT 1 RW 2, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, tampak sejumlah produk kerajinan seperti pot, keranjang, dan rak-rak bunga tertata rapi. Produk kerajinan itu dipasarkan di Kota Semarang, termasuk ke Ungaran, Salatiga dan Kendal. Diakui, pemasaran produknya memang masih terbatas di wilayah tersebut, karena keduanya hanya mengerjakan di sela-sela kesibukan bekerja.

“Kami produksi sudah lama, sejak anak saya masih kecil sekarang sudah kuliah. Awalnya, cuma buat sedikit-sedikit, sekarang sudah buat banyak, soalnya sudah ada group-group WhatsApp dan media sosial (medsos) lain yang mendukung pemasaran,”kata Suyati kepada koran ini, Rabu (7/2).

Dikatakannya, ide awal pembuatan produk tersebut, bermula ketika suaminya sudah tidak bekerja lagi di Salatiga. Untuk mengisi kesibukan dan mencari tambahan pendapatan keluarga, tercetuslah untuk merintis usaha sendiri di rumahnya. Saat ini, suaminya bekerja di perkebunan yang ada di Gunungpati. “Semua dikerjakan nyambi, Mas. Kalau barangnya jadi, nanti diorderkan ke orang untuk dijualkan. Semua kami buat sendiri, termasuk las juga dikerjakan sendiri. Kalau pemesan biasanya ada yang langsung datang ke sini, ada juga yang diantar,”ujarnya.

Ia masih ingat betul ketika 2001 atau 2004 lalu, sempat kebanjiran order dari pabrik untuk membuat kerajinan kursi. Bahkan saking banyaknya order, suaminya mengerjakan dengan rekannya Ahmad Soleh, yang juga pengrajin rotan dan warga sekitar. Untuk bahan kerajinan, lanjutnya, hanya dua yang paling dominan, yakni besi untuk rangka dan rotan untuk kreasinya. Rotannya sendiri lebih banyak digunakan rotan sintetis. Namun demikian, apabila ada konsumen menginginkan bahan rotan asli, pihaknya juga siap menyediakan.

“Bahannya dibuat dari rotan sintetis, biasanya sekali beli sampai 10 kilogram, tapi semua tergantung permintaan konsumen, semua bisa dikerjakan sesuai permintaan. Sehari paling bisa buat 10 sampai 20 kerajinan, karena dibuat di sela-sela kerja,”ungkapnya.

Namun demikian, tak dipungkirinya, usaha yang digelutinya memang sudah terancam mati. Pasalnya, selain terkendala bahan baku, kendala lain, berkurangnya jumlah pengrajin yang ada di kampungnya. Sehingga saat pesanan meningkat, menjadi kuwalahan melayani. Selain itu, peminatan masyarakat pada kerajinan berbahan rotan juga mulai berkurang.