Tarik Peredaran Buku Ajar SD

Buku Sejarah Sebut NU Organisasi Radikal

153
BERI KETERANGAN: Kepala Dinas Pendidikan Kota Salatiga Yuni Ambarwati saat ditemui dikantornya. (ISTIMEWA)
BERI KETERANGAN: Kepala Dinas Pendidikan Kota Salatiga Yuni Ambarwati saat ditemui dikantornya. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA – Dinas Pendidikan Kota Salatiga menunggu arahan dari kementerian terkait beredarnya buku mata pelajaran ilmu sejarah untuk kelas V Sekolah Dasar (SD) yang menyebut Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ‘organisasi radikal’. Sembari menunggu, Dinas Pendidikan melakukan pemantauan dan pendataan toko yang menjual buku tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Salatiga Yuni Ambarwati mengatakan buku berjudul Peristiwa Dalam Kehidupan dengan sampul gambar anak-anak diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2017.

Buku itu setebal 226 halaman itu di bawah judul tertulis Tema 7 Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013. “Kami tadi (kemarin, red) mendapat laporan ada temuan serupa di Salatiga ini masih kami tindaklanjuti,” terangnya kepada wartawan di ruang kerjanya Kamis (7/2)

Yuni menerangkan setelah mengecek ke jajarannya benar adanya materi yang menyebut NU organisasi radikal tepatnya berada di halaman 45 buku tersebut. Dirinya melanjutkan, buku yang jadi persoalan itu menerangkan materi berjudul Masa Awal Radikal (tahun 1920-1927an) disana dijelaskan masa perjuangan Bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda. “Disebut masa radikal karena perjuangan dilakukan secara radikal/keras, menolak kerjasama dengan Belanda,” ujarnya

Saat ini Disdik Kota Salatiga masih melakukan pengecekan hingga ke sekolah-sekolah. Mengenai penarikan buku tersebut dari peredaran ia masih menunggu arahan dari Kemendikbud pusat.

Dia mengakui telah menyampaikan kepada para pengawas dan guru serta kepala sekolah agar turut melakukan pengecekan apabila ada temuan supaya dikumpulkan terlebih dahulu.”Kami sudah mengimbau buku itu untuk tidak disampaikan ke anak didik, sambil menunggu keputusan dari Kemendikbud,” sebutnya

Secara pasti jumlah buku ajar yang menuai polemik sebaran di Kota Salatiga, Yuni mengaku belum mengetahui. Sebagai langkah antisipasi seluruh jajaran sementara diminta menarik apabila sudah telanjur dibagikan ke peserta didik. (sas/bas)