Perajin Batik Terpaksa Impor Bahan Baku

30
LANGKA: Produksi batik terhalang oleh kelangkaan bahan baku dan cuaca yang buruk. (ALIEF MAULANA / RADARSEMARANG.ID)
LANGKA: Produksi batik terhalang oleh kelangkaan bahan baku dan cuaca yang buruk. (ALIEF MAULANA / RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN – Kelangkaan bahan baku dan faktor cuaca yang tidak menentu, membuat produksi batik di Kota Pekalongan, mengalami penurunan. Langkanya bahan baku dikatakan sejumlah perajin batik membuat perajin milih mendatangkan kebutuhan kain dari luar negeri. Akibatnya, harga batik saat ini juga mengalami kenaikan.

Dikatakan Fadlan Adidaya, anggota Omah Kreatif yang menaungi perajin batik di Kampung Batik Kauman, saat ini permintaan batik dipasaran cukup tinggi, akan tetapi ketersedian bahan baku membuat produksi batik kini dibatasi setiap bulannya.”Bahan baku saat ini langka, sementara permintaan dari konsumen cukup tinggi. Pengaruhnya, yang biasanya satu bulan produksi satu UKM 30 potong, sekarang hanya 15 potong,” ujar Fadli.

Ditambahkan Fadlan, untuk kain Primisima saja, saat ini permeternya Rp 12.500, sedangkan untuk membuat satu baju, satu kain baju saja mebutuhkan kain sepanjang 2 meter, sedangkan harga cap saat ini Rp 20 ribu, ditambah pengeluaran untuk pegawai. Oleh sebab itu, banyak pedagang yang saat menaikan harga batik.

“Masalah harga kita masih menggunakan harga lama. Yaitu sekitar Rp 65 ribu, untuk jenis kaos. Dan ada kemungkinan mulai minggu depan harganya akan naik Rp 75 ribu. Belum beberapa jenis pakaian lainnya dan kualitas kainnya,” imbuhnya.

Faktor kelangkaan tersebut juga berdampak pada pengurangan jumalah karyawan di beberapa perajin batik, yang semula dalam satun UKM terdapat 20 pekerja, kini hanya 15 pekerja. Tidak hanya itu, faktor cuaca juga membuat omset usaha batik menurun. Tercatat di Kampung Batik Kauman yang pada bulan sebelumnya mencapai 6 hingga 9 juta, kini pada Januari rata-rata hanya mencapai 3 juta saja.

Tidak hanya perajin batik saja. Imbas dari menurunya produksi batik juga berpengaruh pada jumlah produksi canting cap. Ahmad Ibaweh salah seorang perajin canting cap di Sapuro Kebulen, mengatakan selama produksi batik menurun, usahanya mengalami penirunan omzet hingga 40 persen sejak bulan desember lalu.

“Salah satu faktornya akibat cuaca buruk membuat sejumlah perajin canting cap mengeluh lantaran sepinya order. Ini menurun sejak bulan Desember lalu. Biasanya dalam satu minggu, ditempat saya bisa menerima pesanan 5 hingga 6 buah canting canting cap namun saat ini kurang dari 5 buah,” ujar Ahmad. (cr3/bas)