Kemendikbud Harus Selektif Terbitkan Buku Ajar

59

RADARSEMARANG.ID, MAGELANG – Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, KH Muhammada Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) lebih selektif dan hati-hati mengenai buku ajar siswa SD/MI. Pasalnya, Kemendikbud tidak cukup hanya meminta maaf dan menarik buku ajar yang menyebut NU sebagai organisasi radikal.

“Alhamdulillah perkembangan terakhir dari Kemendikbud, sudah bersedia menarik buku-buku itu. Tetapi menurut saya, tidak cukup. Artinya ini harus menjadi catatan tebal bagi Kemendikbud, agar betul-betul selektif dalam menerbitkan buku-buku pelajaran bagi anak didik,” kata Gus Yusuf Kamis (7/2) kemarin dalam kirab budaya dharma warta di Padepokan Gunung Tidar di Jalan Potrosaran Kota Magelang.

Gus Yusuf menegaskan, penulisan dalam buku ajar SD/MI, yang menyebutkan NU sebagai ‘organisasi radikal’, berdampak langsung terhadap anak-anak didik yang masih polos. Penulisan tersebut, menurut Gus Yusuf, telah memutarbalikan fakta terhadap keberadaan NU.

Gus Yusuf memastikan, apa yang tercantum dalam buku ajar tersebut merupakan pemutarbalikan fakta. Nahdatul Ulama, menurut Gus Yusuf, selama ini ikut mendirikan republik, dan NU yang selama ini menjadi garda terdepan menjaga kebhinekaan. NU, lanjut Gus Yusuf, menjadi garda terdepan untuk menjaga kesejukkan, situasi yang kondusif, NU yang ramah, namun tiba-tiba tertulis NU menjadi bagian dari organisasi radikal.

“Karena ini bukti bahwa Kemendikbud lalai dalam hal ini, jadi tidak cukup hanya ditarik dan minta maaf, tetapi harus ada komitmen ke depan agar lebih selektif dan hati-hati,” tukas Gus Yusuf. (had/lis)