Napi Kendalikan Peredaran Narkoba

69
BARANG BUKTI: Kapolres Magelang Kota, AKBP Idham Mahdi didampingi Kasat Narkoba AKP Prasetyo Budiyanto menunjukkan barang bukti hasil tangkap kasus narkoba di mako polres setempat. (Agus Hadianto/RADARSEMARANG.ID)
BARANG BUKTI: Kapolres Magelang Kota, AKBP Idham Mahdi didampingi Kasat Narkoba AKP Prasetyo Budiyanto menunjukkan barang bukti hasil tangkap kasus narkoba di mako polres setempat. (Agus Hadianto/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, MAGELANG – Kepolisian Resor Magelang Kota membekuk jaringan pengedar dan pemakai narkoba jenis sabu, yang diduga dikendalikan oleh napi Lapas Grasia Jogjakarta selama bulan Januari lalu. Sebanyak enam tersangka dengan barang bukti narkotika jenis sabu seberat 1,32 gram, berhasil diamankan oleh Polres Magelang Kota.

“Barang ini diduga didapatkan oleh para tersangka dan dikendalikan dari dalam lapas oleh napi di Lapas Grasia Jogjakarta,” kata Kapolres Magelang Kota, AKBP Idham Mahdi didampingi Kasat Narkoba AKP Prasetyo Budiyanto, Kasubag Humas AKP Nur Saja’ah dan Kabag Ops Kompol Sri Hatmo, Rabu (6/2) saat gelar perkara di mako setempat.

Para tersangka adalah FBS bin Budiyanto, 23, dan YF bin Ahmad Rifai, 33, keduanya warga Kelurahan Panjang. Lalu Ndol bin Yono Sukoco, 31, dan WP bin Sugiyanto, 36, keduanya warga Kelurahan Rejowinangun Utara. Dua lainnya WA binti Mustofa, 38, dan NC bin Bejo Suyanto, 23, keduanya warga Kelurahan Rejowinangun Selatan.

Idham menjelaskan, dua tersangka FBS dan YF saling terkait dan ditangkap pada 10 Januari 2019 di daerah Kampung Bogeman Lor Kelurahan Panjang. Empat tersangka lainnya, saling terkait dan ditangkap di hari yang sama, 15 Januari 2019.

Awalnya, polisi menangkap Ndoel di rumahnya daerah Paten Jurang dengan barang bukti 2 paket plastik klip kecil berisi sabu saat penggeledehan di badan dan rumah.

Idham menyebutkan, tersangka Ndoel mendapatkan narkoba dari rekannya bernama WP, yang ditangkap di Kemirirejo. WP, dalam pengakuannya memakai sabu ini bersama istrinya, WA, dan rekannya berinisial NC.

“NC mengaku disuruh oleh WP untuk menaruh sabu di samping SD Rejowinangun pesanan seseorang dan terbukti ada satu bungkus plastik berisi sabu,” jelas Idham.

Idham mengungkapkan, modus operandi pelaku yakni pengedar menaruh barang pesanan sabu di suatu tempat yang sudah disepakati dengan pembeli/pemesan.

“Sejauh ini, komunikasi antara pemesan dan penjual lewat telepon seluler, khususnya pesan singkat (SMS). Tempat yang dipilih bisa di pot, tiang listrik, atau lainnya yang terlebih dahulu sudah diberi tanda,” imbuh Idham. (had/lis)