Urung Wayang Potehi karena Sang Dalang Wafat

Foe Jose Amadeus Krisna, Kampanyekan Pluralisme Lewat Wayang

63
WAYANG KRONIK : Foe Jose Amadeus Krisna membawa wayang Sun Go Kong, salah satu tokoh dari wayang kronik yang sedang dibuatnya. (NURCHAMIM/RADARSEMARANG.ID)
WAYANG KRONIK : Foe Jose Amadeus Krisna membawa wayang Sun Go Kong, salah satu tokoh dari wayang kronik yang sedang dibuatnya. (NURCHAMIM/RADARSEMARANG.ID)

Tak banyak pemuda keturunan Tionghoa yang suka mendalang. Tapi, Foe Jose Amadeus Krisna—intim disapa Jose—justru menyukainya. Kiprah Jose untuk nguri-uri budaya tradisional patut diapresiasi. Bahkan, dicontoh oleh pemuda-pemudi lainnya.

RADARSEMARANG.ID, KEMAMPUAN mendalangnya, membuat pemuda 20 tahun ini, berkeliling Jawa-Bali untuk mendalang. Oleh pastor gereja tempatnya beribadat, Jose bahkan dijuluki sebagai Ki Sabdo Utomo. Harapan sang pastor, Jose bisa membawa pesan moral dalam setiap pentas yang dibawakan. “Tapi, saya lebih suka dipanggil Jose saja,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Mengapa Jose suka wayang? “Saya kenal wayang dari televisi,” tuturnya. Toh, sebetulnya, ia justru ingin mempelajari wayang potehi. Hanya saja, ketika ada niat belajar, sang dalang wayang potehi di Semarang—yakni Thio Tiong Gie atau Teguh Chandra Irawan— sudah tutup usia. Akhirnya, Jose belajar wayang Jawa.

Ketertarikannya pada wayang karenabanyak hal. Salah satunya, wayang merupakan budaya yang paling dihargai di Indonesia. Di luar negeri, wayang juga tidak asing. ”Saya suka wayang, karena memiliki banyak pesan moral yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada filosofi yang bisa membuat diri menjadi lebih baik. Kakek dulu juga suka wayang, tapi wayang orang,” kata Jose usai menjadi pembicara bertema pluralisme di Pecinan Semarang, belum lama ini.

Pria bernama Tionghoa: Fu Chong Gao ini, mulai mendalang sejak 2013. Kali pertama mendalang di Sobokartti yang juga tempatnya belajar mendalang. Ia membawakan lakon Gatotkaca Lahir. ”Saya belajar (ndalang) di Sobokartti bersama Pak Rujito,” ucap pria kelahiran Semarang 21 November 1998 yang sudah mengoleksi sejumlah penghargaan ini. Di antaranya, memenangkan predikat Ngabehi pada 2013. Berikutnya, juara Festival Dalang Semarang dan mendapat penghargaan dari Asia Wangi BCA.

Selama mendalang, Jose senang ketika membawakan cerita dramatis. Ia merasa sukses ketika bisa membawa penonton masuk ke dalam cerita yang dibawakan. Mengaduk-aduk emosi penonton, bahkan membuat penonton menitikan air mata melalui tembang-tembang dan pilihan kata yang ia sampaikan. Salah satunya ketika Jose mendalang di Solo. “Waktu itu, saya bawakan lakon Gatotkaca Sungging,” ucap penggemar Ki Narto Sabdo dan Ki Purbo Asmoro ini.

Saat ini, melalui pertunjukan wayang yang ia bawakan, Jose getol mengkampanyekan pluralisme. Kampanye pluralisme, ucap Jose, dianggap lebih efektif disampaikan melalui budaya. “Paling aman, karena budaya itu luwes. Mencakup segala hal yang dilakukan dalam keseharian. “Dikatakan, kampanye pluralisme yang ia sampaikan, tidak hanya omongan semata. “Tapi, melalui tindakan saya sehari-hari.”

Bagi Jose, tidak ada salahnya generasi muda mencintai budaya tradisional. Sebab, banyak orang luar negeri ketika datang ke negeri ini, justru untuk mencari budaya tradisional Indonesia. Kenalan Jose dari luar negeri juga berdatangan ke Nusantara hanya untuk memperdalam budaya Jawa.