Koi Suci Menjadi Labuhan Hati

Ketika Cucu Legenda Potehi Pilih Geluti Barongsai

94
JALAN HIDUP : Gunawan Heri Chandra Irawan memilih menjadi penari dan pembuat barongsai, berbeda dengan mendiang kakeknya, Thio Thiong Gie yang pernah terkenal sebagai dalang wayang Potehi. (ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID)
JALAN HIDUP : Gunawan Heri Chandra Irawan memilih menjadi penari dan pembuat barongsai, berbeda dengan mendiang kakeknya, Thio Thiong Gie yang pernah terkenal sebagai dalang wayang Potehi. (ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID)

Gunawan Heri Chandra Irawan, 27, memilih jalannya sendiri untuk melanjutkan kesenian khas Tionghoa. Ia memilih tari barongsai, meski sang kakek–mendiang Thio Thiong Gie—adalah salah seorang legenda dalang wayang potehi di Indonesia asal Semarang. Apa yang membuat Hery pilih barongsai, ketimbang potehi?

RADARSEMARANG.ID, SIAPA tak kenal Thio Tiong Gie atau yang akrab disapa Teguh Chandra Irawan? Sosoknya melegenda sebagai dalang wayang Potehi asal Semarang. Meski sudah wafat, nama Thio Tiong Gie akan tetap dikenang sepanjang waktu.

Darah seni Thio Tiong Gie rupanya mengalir deras ke anak-cucunya. Salah satunya, ke Gunawan Hery Chandra Irawan, 28. Hanya saja, Hery—sapaan intimnya—tak menggeluti Potehi seperti keahlian sang kakek. Hery pilih menjadi penari dan pengrajin barongsai.

Ditemui di rumahnya di Jalan Petudungan, kawasan Pecinan Kota Semarang, Hery menceritakan ketertarikannya pada barongsai sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Sejak bersekolah di SD Kuncup Melati Semarang, Hery kerap melihat orangtuanya latihan. Ya, ayah Hery, merupakan anggota kelompok barongsai tertua di Kota Semarang, Tin Hio Tong.

Lulus SD, Hery diajak orangtuanya untuk membuat kelompok barongai sendiri. Namanya: Rajawali Sakti. Kini, sudah berganti nama menjadi Koi Suci. Dari situ, job tampil semakin banyak. “Awal tampil karena sering dapat job di dalam maupun luar Semarang,” katanya. Tawaran tampil menarikan barongsai terbanyak justru dari luar Semarang. Momen Imlek 2019 ini saja, Hery sudah dipesan untuk pentas di Jogja. “Sudah tiga tahun berturut-turut main di Jogja.”

Tahun-tahun sebelumnya, tawaran justru datang dari kota-kota di Jawa Timur. Salah satunya, Malang. Kelompok barongsai Koi Suci sendiri beranggotakan 40 orang. Terdiri atas penabuh musik pengiring, pemain barongsai, pemain naga, hingga penata properti.

Meski kerap tampil, ternyata tempat latihan mereka sangat sederhana. Hanya berlatih di belakang rumah, dengan kondisi seadanya. Jika hujan, latihan otomatis berhenti. Meski begitu, semangat berlatih tetap membara. Hal itu dibuktikan dengan torehan prestasi. Pada 2018 lalu, Koi Suci menyabet gelar juara umum, harapan 1, dan juara 1 kategori halang rintang di Surakarta.

Selain berbakat menari, Hery juga pintar membuat barongsai. Selain Semarang, pesanannya mengalir dari berbagai kota di Indonesia. Di antaranya, Makasar, Pontianak, dan Surabaya. Buktinya, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Hery masih sibuk memproduksi barongsai di belakang rumahnya. “Ini saja, order sudah saya tutup sejak kemarin-kemarin. Ini masih ada beberapa yang belum jadi,” ucapnya.

Kemampuannya membuat barongsai diperoleh secara otodidak.

Kali pertama, ia hanya melihat struktur barongsai. Lantas, Hery mencoba membuat kerangka kepala barongsai. Bahan yang digunakan untuk membuat kerangka kepala adalah rotan. Rotan dibuat menyerupai kerangka, kemudian dibalut dengan kain kasa. Selanjutnya, dipasang pernak-pernik seperti bola mata dan bulu. “Sekarang malah keterusan dan makin banyak pesanan,” tuturnya.