Kerah dan Lengan Tetap Sesuai Pakem

Aldion Soe Prijono, Padukan Cheongsam dengan Budaya Lokal

95
PADUAN BUDAYA : Aldion Soe Prijono bersama model yang membawakan Cheongsam karyanya dengan mengusung tema perpaduan budaya Jawa, Tiongkok, Eropa dan Arab.
PADUAN BUDAYA : Aldion Soe Prijono bersama model yang membawakan Cheongsam karyanya dengan mengusung tema perpaduan budaya Jawa, Tiongkok, Eropa dan Arab.

Tak banyak desainer busana asal Semarang yang intens merancang Cheongsam, busana tradisional khas perempuan Tiongkok. Dari yang sedikit itu, salah satunya adalah Aldion Soe Prijono.

RADARSEMARANG.ID, PANGGILANNYA Aldion. Wajahnya selalu sumringah ketika diminta menjelaskan busana rancangannya. Utamanya, Cheongsam yang setiap Imlek tiba, selalu menjadi perhatian sejumlah desainer.

Aldion mempunyai ketertarikan yang sangat kuat saat mendesain Cheongsam. Tak sekadar mendesain. Aldion juga mempertimbangan kearifan lokal. Ia bahkan mampu memadukan berbagai akulrasi budaya pada Cheongsam rancangannya. Yakni, memadukan unsur Jawa, Tiongkok, Eropa, dan Arab pada karya-karyanya.

“Paduan budaya ini, membuat Cheongsam semakin cantik dan bisa digunakan oleh siapa saja,” kata Aldion kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini. Alasannya adalah Semarang kaya akan akulturasi empat budaya tersebut.

“Misalnya saja dengan paduan batik Lasem, batik pesisir dengan potongan simetris yang diolah lebih modern namun tetap sesuai kaidah yang ada,” ujarnya.

Imlek tahun ini, Aldion mengeluarkan lima koleksi Cheongsam. Semuanya memadukan unsur etnik dan batik. Tentu saja masih kental dengan warna merah dan border burung Ong-nya.

Dikatakan, saat ini Cheongsam tidak melulu bermotif etnik, karena menyasar semua segmen. Karena itu, kadang dipadukan dengan batik. Namun, nuansa kerah dan lengannya tetap paten, sesuai pakem. “Pemakainya juga meluas, tidak hanya perempuan keturunan Tionghoa saja.”

Terkait Cheongsam yang ia rancang, Aldion mengaku lebih berkreasi yang sudah ada, menjadi sesuatu yang baru, namun tidak mengembangkan pakem yang ada. Aldion condong mengadaptasi gaya dari desainer senior lain seperti Anna Avantie yang ia anggap punya karakter kuat. Juga, desainer Christine Wibowo, yang kuat dalam kultur. Serta, Gorgeus Vico yang dinilai memiliki karakter desain modern cukup kuat.

Pernah Menjadi Akuntan

Sebelum dikenal sebagai desainer kondang, Aldion pernah berprofesi sebagai seorang akuntan dan konsultan pajak. Ia juga pernah menggeluti make up beberapa fashion desainer di Semarang. “Tapi, hobi saya menggambar. Salah satunya, ya tentang desain yang saya tuangkan ke media lainnya seperti kertas. Akhirnya, pada 2005, saya coba membuat desain tiga dimensi. Bisa dibilang, ini belajar desain secara otodidak,” ucap pria kelahiran Semarang 27 Maret 1971 ini.

Aldion memulai debutnya sebagai perancang busana pada 2008 silam. Ia mengambil kebaya, karena pasarnya cukup luas. Nah, pada 2013, Aldion memberanikan diri mengikuti pameran wedding plus fashion show.

“Dari situ, saya mulai punya pelanggan dan banyak permintaan.” Baru-baru ini, Aldion menggelar fashion show rancangannya di bandara. Ia memamerkan koleksi kebaya ready to wear dengan model drapping atau tanpa jahitan. Aldion mengenang, fashion show pertamanya menggunakan jasa agency model Totok Shahak. Pengalaman tak terlupakan pun hingga saat ini masih membekas.