Belajar dari Lagu Dulu, Baru Bahasanya

Maharani Kusumaningrum, Penyanyi Spesialis Tembang Mandarin

51
HOBI SEJAK KECIL : Menyanyi dan menghibur orang membuat Maharani Kusumaningrum merasa sehat dan awet muda. (ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID)
HOBI SEJAK KECIL : Menyanyi dan menghibur orang membuat Maharani Kusumaningrum merasa sehat dan awet muda. (ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID)

Penyanyi dengan spesialis tembang-tembang Mandarin di Kota Semarang, masih sangat minim jumlahnya. Padahal, saat perayaan Imlek, order penyanyi untuk menembangkan lagu-lagu Mandarin, paling banyak dicari.

RADARSEMARANG.ID, MAHARANI Kusumaningrum, 31, perempuan keturunan Tionghoa ini termasuk yang beruntung. Ia fasih mendendangkan tembang Mandarin. Yang menarik, ia kerap memadukan hobi dan profesinya sebagai psikolog, saat pentas di atas panggung. Alasannya, selain memberikan hiburan, juga untuk menyehatkan badan dan pikiran.

“Ya, dengan menyanyi, bisa menghibur banyak orang dan merasanya bikin sehat dan awet muda saja. Sehingga mereka bisa sadar dengan menyanyi itu, sangat sehat. Kita seperti berolahraga,” kata Maharani saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, baru-baru ini.

Setiap momen Imlek tiba, Maharani kerap kebanjiran order. Rani—sapaan intimnya—mengaku, menyanyi merupakan hobinya sejak kecil. Dukungan dan dorongan dari orangtua, membuat bakat menyanyi Rani semakin terasah, Karena itu, ketika duduk di bangku SMP Karangturi Semarang, ia sudah pintar menembang. Utamanya, lagu-lagu Mandarin.

“Waktu awal masuk SMP, ditawari untuk tampil nyanyi di acara TV Borobudur (sekarang Kompas TV). Acaranya, Mandarin Night. Dari situ kemudian mulai belajar serius, kursus kira-kira sampai kuliah. Sampai sekarang juga masih terus belajar,” katanya.

Perempuan kelahiran 18 Agustus 1988 silam ini menyampaikan, banyak cara dilakukan pada saat belajar bahasa Mandarin. Selain kursus dan mendapatkan pelajaran di sekolah, ia tak malu berkonsultasi dengan keluarga dan saudara-saudaranya yang fasih berbahasa Mandarin.

“Artinya, saya tidak ada kesulitan, karena sudah familiar,” ucapnya. Cara lainnya, Rani belajar langsung dari lagu-lagu Mandarin. “Jadi belajarnya dibalik. Dari lagu, baru bahasanya. Setiap mau menyanyikan lagu, ya harus tahu artinya apa,” ujarnya.

Karena kerap menyanyikan tembang Mandarin, Rani dilirik oleh berbagai kalangan. “Jadinya, saya sering diundang untuk mengisi berbagai acara. Mulai acara wedding sampai nyanyi di luar Semarang.” Ini terus berlanjut hingga Rani kuliah di Unika Soegijapranata (Unika) Semarang.

“Sering dapat job, ngisi acara seperti di acara klenteng, ulang tahun, arisan, wedding. Kemudian, ada juga kalau nggak salah waktu SMA atau sudah kuliah, tampil nyanyi yang dihadiri wakil gubernur Jawa Tengah.”

Selain fasih bernyanyi Mandarin, Rani juga kebanjiran order ngemsi (pemandu acara).

Pengalaman mengesankan terjadi dua tahun silam. Ia satu penggung dengan penyanyi jazz kondang, Tompi. “Seneng banget, karena Tompi idola saya,” ucap Rani, tersenyum ketika mengenang momen tersebut. Baginya, semua tembang Mandarin ia suka.

Sedikitnya penyanyi yang fasih menembang Mandarin, rupanya dimanfaatkan penyanyi lain untuk mencoba. Sayangnya, tak semua fasih menyanyikan lagu-lagu Mandarin. “Bagi saya, yang betul-betul bisa menyanyi Mandarin, cuma mendengar sekilas saja tahu.”