Doa yang (Tak) Tertukar

33
Direktur Jawa Pos Radar Semarang (Oleh: Baehaqi)
Direktur Jawa Pos Radar Semarang (Oleh: Baehaqi)

RADARSEMARANG.ID, DAHULU kala di Mostar, Bosnia, hidup seorang mufti. Namanya Mustafa Ejubovic. Lahir pada 1651 dan meninggal 1707. Ayahnya seorang profesor terkemuka. Mustafa mendapat titisan darah ayahnya. Dia melanjutkan sekolah di Konstantinopel sampai mendapat gelar guru besar. Ilmunya dibawa pulang dan dia mendapat julukan mufti.

Mufti adalah ulama yang memiliki wewenang untuk menginterpretasikan teks dan memberikan fatwa kepada umat (Bisa diklik di Wikipedia).

Fungsi mufti kadang-kadang diambil oleh suatu organisasi ulama seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) maupun oleh Pengadilan Agama (PA).

Meski seorang ulama besar, terkenal, dan berpengaruh, ada saja anak-anak yang berani menggodanya (sehari setelah kunjungan presiden ke Mbah Moen kisah ini diunggah Republika.co.id). Saat itu Mustafa sedang lewat di sebuah masjid. Ada beberapa anak yang sedang bermain.

Tak lazim. Mereka mengunakan keranda jenazah untuk memecah tawa. Seorang anak dijadikan “mayat”. Disuruh pura-pura mati. Kemudian dibaringkan di keranda tersebut. Dipikul beramai-ramai. Mereka terpingkal-pingkal.

Ketika Syeh Mustafa yang juga dianggil Yuyo atau Jujo lewat, anak-anak tersebut semakin bertingkah. Dimintanya wali keramat itu untuk menyalati. Kok mau-maunya Sheh Mustafa memenuhi permintaan anak-anak tersebut.

Ketika prosesi salat mau dilaksanakan Syeh Mustafa berbalik menghadap ke anak-anak yang sudah berdiri berbaris di belakangnya. ”Yang mau disalati itu yang hidup apa yang mati,” tanya syeh kepada anak-anak. “Yang mati,” jawab anak-anak serentak. Pertanyaan itu diualngi hingga dua kali. Jawaban anak-anak tetap sama.

Salat jenazah pun dilakukan. Anak-anak menahan tawa. Sampai akhirnya salat jenazah selesai. Anak-anak cekikikan. Syeh Yuyo meninggalkan mereka. Anak-anak kemudian membuka keranda membangunkan temannya yang disuruh pura-pura mati. Berkali-kali dibangunkan, “mayat” tersebut tidak bereaksi. Ternyata betul-betul menjadi mayat. Heninglah jadinya. Mereka lantas sadar bahwa seorang mufti tidak bisa dimain-
mainkan.

Alikisah 2
Pada Jumat lalu seorang ulama besar Indonesia yang hidup di Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jateng, mendapat kunjungan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Ulama yang sangat disegani bernama KH Maimoen Zubair atau lebih dikenal Mbah Moen. Kunjungan orang nomor
satu di Indonesia itu disambut gempita oleh santri dan masyararakat lainnya. Sampai akhirnya Mbah Moen diminta memimpin doa.

Mbak Moen yang mengenakan baju putih dan penutup kepala yang juga putih memenuhi permintaan tersebut. Awalnya tidak menggunakan teks. Tak berapa lama beliau merogoh saku mengeluarkan kertas berwarna kuning. Membacanya. Menyambung doa yang diucapkan sebelumnya. Presiden

Jokowi yang juga mengenakan baju putih dan kopiah hitam mengamini dengan mengangkat tangan.

Saat membaca doa itulah Mbah Moen mendo’akan Prawobo Subianto, calon presiden nomor urut dua yang menjadi rival Joko Widodo yang bernomor urut 1. “..Hadza rois Pak Prabowo….” Saat doa itu masih dibacakan suasana tetap khusuk. Pak Jokowi tidak bereaksi sama sekali. Beliau tetap menunduk.