Kembangkan Tanaman Identitas Daerah yang Nyaris Punah

Sasana Kultura Unnes Budidayakan Tanaman Langka dengan Kultur Jaringan

230
INOVASI : Kepala Sasana Kultura Unnes, Enni Suwarsi Rahayu, menunjukkan salah satu tanaman yang dikembangkan melalui metode kultur jaringan.ADENNYAR WYCAKSONO/RADARSEMARANG.ID
INOVASI : Kepala Sasana Kultura Unnes, Enni Suwarsi Rahayu, menunjukkan salah satu tanaman yang dikembangkan melalui metode kultur jaringan.ADENNYAR WYCAKSONO/RADARSEMARANG.ID

Sebagai negara yang beriklim tropis, Indonesia memiliki berbagai flora yang tidak dimiliki negara lain. Sayangnya, berbagai tanaman di Indoensia ini keberadaannya mulai langka bahkan nyaris punah, di antaranya Pohon Kendal, tanaman Bidara dan Kantung Semar. Universitas Negeri Semarang (Unnes) melalui Sasana Kultura, mencoba membudidayakan berbagai tanaman ini agar tidak punah. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

RADARSEMARANG.ID, SASANA Kultura adalah sebuah unit jasa di Unnes yang berdiri sejak 2017. Sasana Kultura fokus pada pengembangan tanaman, demi kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, Sasana Kultura juga melakukan pelatihan menanam bagi masyarakat, tukar pikiran terkait tanaman, wirausaha tanaman, hingga fokus penanaman tanaman langka. “Kita juga melakukan pelatihan bagi masyarakat,” kata Kepala Sasana Kultura Unnes, Enni Suwarsi Rahayu saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di laboratorium kampus Unnes.

Wanita paruh baya ini menejelaskan, apa itu kultur jaringan. Dikatakan, kultur jaringan merupakan sebuah metode penanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman semisal sekelompok sel atau jaringan. “Semua ditanam dengan cara aseptik (bebas infeksi), sehingga bagian dari tanaman itu bisa memperbanyak diri, tumbuh jadi tanaman yang lengkap kembali. Cara ini bisa membuat tananam langka bisa dibudidayakan,” jelasnya.

Kultur jaringan sendiri sengaja dilakukan, karena jika dilakukan secara manual seperti ditanam langsung, akan mengalami tingkat kegagalan yang cukup tinggi. Dari tangan dingin Enni yang mulai berkecimpung sejak 2017 lalu, berbagai tanaman langka berhasil dibudidayakan lewat kultur jaringan di Unnes. “Contoh tanaman langka yang berhasil dikembangkan adalah bunga Lily, Kantung Semar, Venus Flytrap, dan masih banyak lagi,” bebernya.

Dikatakan, saat ini, Sasana Kultura juga sedang mencoba membudidayakan tanaman yang identik dengan Jateng, dan masuk dalam kategori tanaman langka. Misalnya, Pohon Kendal yang merupakan identitas kabupaten di sisi barat Kota Semarang. Selain itu juga ada tanaman Rejasa yang merupakan identitas daerah Salatiga. Kemudian tanaman Bidara dari Tegal, tanaman Nagasari dari Banyumas, hingga Carika Dieng Wonosobo. “Bahkan untuk Pohon Rejasa, di Salatiga cuma bisa ditemukan di sebuah sekolah di sana. Maka kita ambil ekstraknya dan kita budidayakan di sini,” ujarnya.

Usaha yang dilakukan, diharapkan tanaman yang masuk kategori langka bisa kembali ditanam dan dikembangkan. Misalnya, tanaman khas dari berbagai kota di Jawa Tengah. Budidaya di Sasana Kultura juga dilakukan agar apabila suatu saat tanaman langka tersebut punah, masih bisa dibudidayakan.

“Untuk pendanaan didapatkan dari Kemenristek Dikti. Kementerian ini terus mendorong kemajuan Iptek, termasuk di dalamnya pembelajaran menggunakan sarana tumbuhan,” jelasnya.

Rektor Unnes Fathur Rokhman mengungkapkan, pihaknya terus mendorong agar ada inovasi di bidang apapun, termasuk budidaya tanaman. “Untuk Sasana Kultura ini semoga akan terus berkelanjutan, serta bisa mengembangbiakkan tanaman yang hampir punah,” harapnya. (*/aro)