Ponpes Dibakar Belanda, Keluarga Mengungsi

Jejak KH Chudlori, Pendiri Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo

184
Jejak KH Chudlori, Pendiri Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo
Jejak KH Chudlori, Pendiri Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo

Di kalangan NU, nama pondok pesantren ini cukup kondang: Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Pesantren yang kerap menjadi jujukan pejabat hingga Presiden ini, dibangun oleh ulama kondang di eranya, bernama KH Chudlori.

AGUS HADIANTO

RADARSEMARANG.ID, BERDIRI pada 15 September 1944. Sang pendiri, KH Chudlori, merupakan ulama asli Tegalrejo. Ia terlahir dari pasangan suami-istri H. Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Chudlori merupakan anak kedua dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, Muhammad Ikhsan, adalah seorang penghulu di Tegalrejo pada era penjajahan Belanda. Pun, sang kakek, Abdul Halim, juga berprofesi sebagai penghulu.

Chudlori kecil menyelesaikan pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Sebuah lembaga pendidikan setingkat SD pada 1923. Setelah lulus, Chudlori mondok di Pesantren Dakwah Sirojul Mukhlasin Payaman selama dua tahun. Ponpes ini diasuh oleh KH Siroj.

Pada 1925, sang ayah, memindahkan Chudlori ke Pesantren An Najah Koripan, Tegalrejo, di bawah asuhan Kiai Abdan. Hanya saja, Chudlori lantas pindah ke Pesantren Salafiyah, asuhan Kiai Rahmat di Grabag hingga 1928. Tak puas untuk terus belajar agama, Chudlori lantas masuk ke Ponpes Tebuireng Jombang, asuhan KH Hasyim Asy’ari. Di pesantren inilah, KH Chudlori tekun mempelajari beragam kitab.

IST
IST

Nah, pada 1933, Chudlori pindah lagi ke Ponpes Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur. Ia menjadi santri Kiai Chozin Muhajir. Selama belajar di Ponpes Bendo, Chudlori tekun mempelajari fiqih dan tasawuf.

Selanjutnya, Chudlori memperdalam ilmu Alquran di Ponpes Sedayu selama 7 bulan. Pada 1937, Chudlori menjadi santri di Ponpes Al Hidayat Lasem, Jawa Tengah, di bawah asuhan KH Mashoem Ahmad dan KH Baidlowi.

KH Muhammad Yusuf Chudlori, putra KH Chudlori bercerita, ayahnya lantas menikah dengan Nurhalimah, putri KH Dalhar, pengasuh Ponpes Darussalam Watucongol, Muntilan. “Setelah menikah, KH Chudlori mengajar di pesantren Watucongol. Namun, KH Chudlori mempunyai keinginan mengajarkan ilmu agama di Tegalrejo. KH Chudlori juga selalu melakukan mujahadah dan meminta petunjuk Allah SWT, agar niatnya bisa diijabah,” kata pria yang intim disapa Gus Yusuf ini saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Setelah mendapat restu dari mertuanya, pada 15 September 1944, KH Chudlori pulang kampung dan mendirikan pesantren di Tegalrejo. Kala itu, pesantren yang didirikan masih sangat sederhana. Hanya memanfaatkan rumah. “Waktu itu namanya belum Ponpes API Tegalrejo.” Selain mendirikan ponpes, KH Chudlori juga rajin mendatangi warga untuk menyampaikan siar Islam. “Saat itu, santri KH Chudlori baru ada delapan orang. Karena memang pada tahun-tahun tersebut, ada yang mendukung dan ada yang menentang pendirian pesantren di daerah Tegalrejo. Terlebih, saat itu sedang masa-masa penjajahan Belanda.”

Masih menurut Gus Yusuf, pada 1947, KH Chudlori mendapatkan masukan untuk menamai pondok pesantrennya. Setelah melalui istikharah, KH Chudlori lantas memberi nama Asrama Perguruan Islam (API). “Dengan nama itu, KH Chudlori berharap santri-santrinya kelak akan jadi api penerang umat dalam kegelapan.”

Gus Yusuf menuturkan, pada tahun yang sama, Ponpes API Tegalrejo diserang oleh tentara Belanda. Pondok API dibakar hingga tinggal abu dan puing. Belanda menuding, Ponpes API menyembunyikan laskar pejuang dan tempat markas perjuangan para laskar. Akhirnya, semua keluarga, para santri, dan KH Chudlori mengungsi ke Desa Tejo, Candimulyo. Aktivitas belajar mengajar di ponpes pun terhenti.

“Nah, pada 1949, KH Chudlori kembali ke desa, mulai membangun kembali pesantren, dibantu santri dan warga. Setelah itu, jumlah santri bertambah banyak mencapai ratusan,” urai Gus Yusuf.

Berkat kegigihan KH Chudlori mengembangkan pesantrennya, maka pada 1977, jumlah santri mencapai 1.500 orang. Namun, di tahun ini pula, KH Chudlori wafat. Menurut Gus Yusuf, wafatnya KH Chudlori, berimbas pada turunnya jumlah santri. Ketika API Tegalrejo dipegang oleh kakaknya, KH Abdurrahman Chudlori (Mbah Dur) dan KH Achmad Muhammad Chudlori pada 1980, jumlah santri sekitar 700 orang.

“Namun, dengan nama besar KH Chudlori dan juga keuletan Mbah Dur, jumlah santri semakin bertambah, bahkan mencapai 3.000 lebih santri. Kemudian, setelah kakak saya, KH Mudrik Chudlori ikut mengasuh pondok, jumlah semakin bertambah mencapai 6.000 orang.”

Gus Yusuf menjelaskan, mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, pernah belajar di API Tegalrejo pada 1956. Saat itu, menurut Gus Yusuf, Gus Dur seusia siswa SMP dan fokus belajar agama Islam selama dua tahun.

Semasa hidup dan menjadi Presiden, Gus Dur kerap mengunjungi Pondok API Tegalrejo untuk bersilaturahmi maupun nyekar ke makam KH Chudlori. “Mungkin saat jadi Presiden, ada delapan kali (Gus Dur) ke Tegalrejo,” ujarnya.

Kini, jumlah santri di API Tegalrejo mencapai 13.000 santri. Terdiri atas 6.000 santri salaf putra maupun putri, dan santri pendidikan sebanyak 3.000. Sisanya, santri lainnya. Sedangkan pengajarnya sebanyak 300 orang.

Tidak hanya Gus Dur yang kerap mengunjungi pesantren API Tegalrejo semasa hidup. Beberapa tokoh nasional pun sering berkunjung. Pada 2016 silam, Presiden Jokowi bahkan bersilaturahmi ke API Tegalrejo untuk bertemu dengan para santri dan memberi motivasi. “Bisa dikatakan, kunjungan ke API Tegalrejo juga bagian gagasan Presiden Jokowi menetapkan Hari Santri, setelahnya,” tutup Gus Yusuf. (*/isk)