Didesain Sendiri, Manfaatkan Sisa Kain Tak Terpakai

Kenalkan Batik Tulis Nusantara dengan Media Boneka

62
KREATIF: Chusnulia Wardhani menunjukkan boneka berbusana batik. (NUR CHAMIM/RADARSEMARANG.ID)
KREATIF: Chusnulia Wardhani menunjukkan boneka berbusana batik. (NUR CHAMIM/RADARSEMARANG.ID)

Batik tulis tak hanya didesain sebagai busana. Di tangan Chusnulia Wardhani, sisa kain batik juga bisa didesain menjadi baju boneka. Inilah salah satu cara dia mengenalkan saSeperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

RADARSEMARANG.ID, POTONGAN kain batik kerap terbuang percuma. Namun di tangan Chusnulia Wardhani, sisa kain batik itu bisa disulap menjadi baju boneka. Ya, dengan memanfaatkan bekas potongan kain batik, wanita yang akrab disapa Dhani ini mencoba memperluas pangsa pasar batik. Ia juga coba mengedukasi generasi milenial saat ini untuk lebih mengenal batik nusantara.

“Saya mencoba mengenalkan batik dengan media boneka agar lebih menarik. Terutama bagi generasi muda saat ini,” katanya di sela pameran fashion di Hotel Harris Sentraland, Selasa (29/1).

Berbagai boneka yang sebelumnya telanjang ini, kemudian dibuatkan baju oleh Dhani. Dari segi model sama persis dengan baju untuk manusia, hanya saja ukurannya saja yang diperkecil. Sebut saja, model rok balon, busana muslim sampai ke hijab pun dibuat oleh tangan terampil pengusaha batik ini.

“Desain bajunya saya buat sendiri, modelnya hampir sama dengan baju manusia, namun ukurannya diperkecil. Usaha ini saya mulai sejak tahun 2016 lalu,” ucapnya.

Berbagai motif batik seperti mega mendung, parang kusumo, parang sarpo, sampai corak batik tulis konteporer yang telah menjadi gaun ini pun setelah jadi langsung dipasang menggantikan baju bawaan boneka tersebut yang sebelumnya kebarat-baratan. “Kesulitannya sih pada bonekanya, karena tidak bisa membuat sendiri. Jadi, bahan bonekanya beli, saya hanya membuatkan baju saja,” tambahnya.

Ia terpaksa membeli bahan berupa boneka tiruan barbie original yang harganya cukup mahal. Meski kisaran harga bahan boneka tiruan barbie tidak sampai Rp 50 ribuan, namun setelah menggunakan batik terlihat lebih anggun, dan prestisius. “Setelah jadi saya jual dengan harga Rp 100 ribuan, dan dari segi omset cukup lumayan,” ucap pemilik Omah Dhani Batik Salatiga ini.

Aneka boneka batik tersebut, hanya dijual saat pameran sebagai sarana menarik perhatian pengunjung pameran. Apalagi bahan baju yang digunakan dibuat handmade, dan menggunakan batik tulis yang kemudian dijahit sendiri. Selain pameran, Dhani mengaku juga menjual produknya melalui online. “Kalau yang online, saya cenderung menjual produk batik saja. Kalau bonekanya hanya saya jual saat pameran,” tambahnya.

Sebelum membuat boneka batik, Dhani adalah seorang perajin batik di Salatiga yang kemudian fokus mempelajari berbagai teknik dan corak batik nusantara. Sampai akhirnya kini ia menjadi asesor batik di Jateng yang sering menguji para pembatik untuk meningkatkan kualitas batik yang diproduksi.

“Batik adalah warisan budaya asal Indonesia dan telah diputuskan oleh Unesco, harapannya setelah dibuat menjadi boneka, banyak generasi muda yang mau mengenal, menggunakan, dan belajar batik tulis,” tutupnya. (dilengkapi cr5/aro)