Melongok Hasil Kerajinan Narapidana Lapas Kedungpane Semarang

Produknya 21 Item, Ada yang Dikirim ke Amerika dan Eropa

124
JOKO SUSANTO/RADARSEMARANG.ID
JOKO SUSANTO/RADARSEMARANG.ID

Para penghuni Lapas Kelas 1A Kedungpane Semarang memiliki kesibukan kreatif. Mereka menghabiskan waktunya di balik jeruji besi dengan membuat kerajinan tangan bernilai jual tinggi. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

RADARSEMARANG.ID, TAUFIK alias Petet adalah salah satu narapidana di Lapas Kedungpane yang dianugerahi tangan kreatif. Terpidana 10 tahun kasus narkotika ini tidak mau di hari senggangnya hanya dipergunakan untuk berdiam diri sembari menunggu masa hukumannya selesai. Bersama sejumlah napi, di antaranya Handang (kasus Tipikor dan sejumlah perkara lainnya) mampu memanfaatkan pelatihan dan pembinaan yang diberikan oleh Lapas Kelas 1A Kedungpane Semarang untuk terus berkarya. Bahkan hasil-hasil karya mereka mampu dipasarkan hingga mancanegara.

Taufik memilih membuat kerajinan tangan. Karyanya patut diacungi jempol. Sebab, karyanya bukan hanya dipasarkan di Kota Semarang, tapi juga ada yang sudah tembus hingga mancanegara. “Saya sejak masuk sini (Lapas, Red) sudah diajari membuat kerajinan. Ada pembimbing yang mengajari, saya diminta untuk sungguh-sungguh bekerja, dan saya bersyukur sekarang sudah bisa,”kata Taufik kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Warga Mlatiharjo, Kecamatan Semarang Timur ini mengaku, sudah banyak karya yang dihasilkan. Di antaranya, meja, kap lampu dinding, lampu sudut, dan lampu tidur. Ia belajar dari nol, namun saat ini sudah cukup mahir. “Saya tidak punya bakat membuat kerajinan tangan, jadi memang dari nol belajar di sini, perlahan-lahan karena niat untuk bisa, jadi lumayan mahir sekarang,”ujarnya.

Napi lainnya, Supriyadi, menambahkan, dirinya merasa bersyukur karena hasil yang didapat dari karyanya dapat mencukupi kehidupannya selama di dalam lapas. Selain itu, sisanya juga bisa dipergunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluargannya di rumah. “Alhamdulilah hasilnya bisa dikirim ke orang rumah. Setiap item saya dapat bagian Rp 50 ribu, jelas semua pelatihan dan bengkel kerja ini bermanfaat untuk kami,”katanya.

Kepala Lapas Semarang, Dadi Mulyadi, mengatakan, banyak produk yang sudah dihasilkan oleh WBP. Produk yang sudah dihasilkan tersebut secara keseluruhan ada sekitar 21 item. Di antaranya, pembuatan kursi rotan sintetis dan telah dikirim ke berbagai negara di Amerika dan Eropa.

“Selama satu bulan ada 200 hingga 250 unit yang telah dipesan dan dikirim ke beberapa negara. Kami bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mengirim barang-barang tersebut, ” kata Dadi di sela-sela peninjauan hasil karya WBP, kemarin.

Pihaknya memastikan, bahan baku kerajinan tersebut menggunakan limbah kayu yang diinovasikan dengan desain semenarik mungkin. Ia menunjukkan sejumlah kerajinan yang sudah jadi, seperti bolpoin, miniatur jam, dan kapal phinisi. Pengelolaan hasil jualnya sendiri, disebutkannya, keuntungan dibagikan berupa premi kepada WBP yang bekerja. Selanjutnya, premi tersebut dibagikan seminggu sekali. “Hasil karya mereka juga sudah ada yang dipesan instansi BUMN. Kami senang karena karya para siswa SMA bisa diakomodasi dan bermanfaat layaknya masyarakat bebas pada umumnya,”ungkapnya. (*/aro)