Tarik Retribusi, tapi Tak Masuk Pemkot

Pasar Bayangan Ancam Pasar Tradisional

68
SEPERTI PASAR BENERAN: Pasar tiban di kawasan Unnes Banaran, Sekaran, Gunungpati, Semarang yang menjajakan makanan siap saji sejak subuh hingga pukul 10.00. (ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID)
SEPERTI PASAR BENERAN: Pasar tiban di kawasan Unnes Banaran, Sekaran, Gunungpati, Semarang yang menjajakan makanan siap saji sejak subuh hingga pukul 10.00. (ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID)

Di saat Pemkot Semarang merevitalisasi pasar-pasar tradisional, di lapangan muncul pasar-pasar bayangan alias pasar tiban (pasar krempyeng). Pasar bayangan ini muncul di tengah perkampungan warga. Alhasil, warga pun memilih belanja di pasar tiban yang lebih dekat dengan rumah, ketimbang datang ke pasar tradisional. Yang menarik, rata-rata pedagang pasar tiban ini juga ditarik retribusi oleh pemilik lahan, dan bukan pemkot.

RADARSEMARANG.ID, PASAR bayangan di halaman Masjid Al Muhajirin Jalan Kauman Barat III No 2 Palebon, Semarang beroperasi setiap hari mulai bakda subuh pukul 05.00 hingga 10.00. Pengunjungnya cukup banyak. Tidak kurang 500 orang orang per harinya. Pedagang juga cukup banyak. Tidak hanya warga Semarang. Ada juga yang berasal dari luar daerah.

Fahruddin, 36, pedagang asal Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang mengaku telah berjualan di Pasar Krempyeng Palebon ini sejak 2012. “Dulu Pasar Krempyeng berada di sepanjang jalan, tapi sejak 1,5 tahun terakhir ini pindah di halaman masjid,” katanya di sela melayani para pembeli, Rabu (23/1).

Pedagang sayuran, rempah-rempah dan buah-buahan ini berjualan dibantu satu orang karyawan. Ia biasa tiba pukul 04.00. “Tiap hari omzet bersih Rp 400 ribu-Rp 500 ribu. Kalau akhir pekan (Sabtu-Minggu) dan hari-hari besar, bisa dapat Rp 1 juta,” akunya.

Fahrudin membeberkan, setiap jualan dirinya membayar retribusi (Infaq) sebesar Rp 12 ribu kepada pengelola (Takmir Masjid Muhajirin). Selain bayar infaq, ditambah bayar parkir dan penitipan meja dasaran.
“Saya ambil dua petak sayap utara, infaq per petak untuk sayap utara Rp 6 ribu, kalau dua petak berarti Rp 12 ribu. Untuk yang pedagang yang berada di sayap selatan, per petak Rp 3 ribu,” ucapnya.
Pedagang lainnya, Komsiah,40, asal Jalan Kalicari 4 RT 5 RW 3 Kecamatan Pedurungan, yang sehari-hari berjualan pakaian dalam, mengaku berjulan di Pasar Krempyeng itu sejak lima tahun lalu (2013). “Saya jualan mulai pukul 05.30 dan berakhir 10.00. Memang pihak pengelola meminta pukul 10.00 sudah berakhir jualan dan meminta menjaga kebersihan. Jadi, sekitar pukul 11.00 sudah bersih (Sudah pulang semua),” ucapnya.

Komsiah menuturkan, setiap jualan, dirinya membayar infaq Rp 6 ribu dan Rp 1000 untuk ongkos parkir. “Kalau bayar infaqnya tidak terasa, lagian tidak mahal. Setiap jualan saya mendapat omzet kotor perhari Rp 2000, saat akhir pekan dan hari-hari besar bisa dapat omzet kotor Rp 500,” akunya.

Salah satu pembeli, Suyati Solikha, 42, warga Jalan Muwardi Raya No 25 B Kalicari, Pedurungan mengaku, 4-5 kali dalam seminggu mengunjungi Pasar Krempyeng tersebut. “Saya milih belanja di sini karena dekat rumah, harganya juga murah dan sudah langganan baik dengan pedagangnya. Di sini, hampir semua kebutuhan memasak juga tersedia, kenapa harus jauh-jauh pergi ke pasar?,” ucap dia saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Ketua Masjid Al Muhajirin, Ahmad Fuad menuturkan, pasar tiban di Palebon awalnya memang di jalanan, karena dinilai menganggu lalu lintas dan kenyamanan pengguna jalan, akhirnya ada usulan beberapa pihak, pasar di relokasi di halaman masjid. “Kami rapat dengan pengurus takmir. Awalnya masih tarik ulur, dikhwatirkan tidak bisa menjaga kebersihan. Berkaca pengalaman jualan di jalan terbukti menjaga kebersihan, akhirnya kita disepakati dibolehkan jualan,” ucapnya.