Mayoritas yang Dimakamkan Perempuan, Terbuka untuk Umum

Ziarah Makam Korban Perang Dunia II di Ereveld Kalibanteng

95
Mayoritas yang Dimakamkan Perempuan, Terbuka untuk Umum
Mayoritas yang Dimakamkan Perempuan, Terbuka untuk Umum

Perang Dunia (PD) II menyebabkan ribuan bahkan puluhan ribu orang meninggal, mulai dari tentara Indonesia, warga sipil, serta tentara dan warga Belanda yang tinggal di Indonesia. Sedikitnya 3.000 korban PD II disemayamkan di kompleks Makam Kehormatan Belanda atau Ereveld Kalibanteng.

ADENNYAR WYCAKSONO

RADARSEMARANG.ID, RIBUAN makam dibangun sejajar rapi. Mereka yang dimakamkan di Ereveld Kalibanteng ini tak hanya warga Belanda, tapi juga dari Indonesia. Yang membedakan hanya bentuk batu nisan sesuai keyakinan, baik muslim, kristen, Yahudi, dan budha. Komunitas Balamuseum, belum lama ini mengunjungi kompleks Ereveld Kalibanteng,yang disambut oleh Opzichter atau pengawas Ereveld, Eko Boedi Listyanto.

Belasan anggota komunitas ini berkeliling di kompleks Ereveld. Eko Boedi dengan sabar menjelaskan tentang sejarah Ereveld. Dikatakan, Ereveld Kalibanteng bernama Grote Postweg. Diresmikan 22 April 1949, dan dikelola oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda Oorlogsgravenstichting (OGS) Indonesia. Diketahui, jika ribuan makam tersebut mayoritas adalah wanita. “Mayoritas yang dimakamkan di sini perempuan. Sehingga sering dikenal dengan nama makam perempuan,” jelasnya.

Dikatakan, di Pulau Jawa ada tujuh Ereveld, yakni Ereveld Menteng Pulo (Jakarta), Ancol (Jakarta), Pandu (Bandung), Leuwigajah (Cimahi), Kalibanteng (Semarang), Candi (Semarang), dan Kembang Kuning (Surabaya). Kompleks ini cukup mudah ditemukan. Letaknya di sebelah barat Bundaran Kalibanteng. Pantauan koran ini, kompleks Ereveld Kalibanteng dibangun berbentuk segitiga sama sisi dengan bagian alas di sebelah selatan.

Di sisi pemakaman, dikelilingi oleh kolam, dan pohon-pohon cemara. Enam pohon beringin besar berdiri di bagian selatan. Serta satu pohon di sudut belakang atau atas segitiga. “Untuk makam perempuan ditempatkan di sisi barat. Bagian timur untuk laki-laki. Pada bagian tengah makam anak-anak, mayoritas adalah korban PD II yang dimakamkan adalah warga sipil,” sambungnya.

Eko Boedi kembali menjelaskan, jika korban PD II tersebut berasal dari kamp-kamp tempat pengasingan tawanan Jepang di sebagian daerah Jawa Tengah. Seperti Ambarawa, Banyubiru, Lampersari, Bangkong, Gedangan, dan Karangpanas. Mereka tewas akibat kesengsaraan yang dialami selama berada dalam tahanan Jepang periode 1942-1945. “Dulu korban PD II dimakamkan di 22 Ereveld seluruh Indonesia yang dibangun antara tahun 1946-1950 oleh dinas pemakaman tentara milik Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Namun setelah penyerahan kedaulatan RI tahun 1960-an ke 22 makam dikumpulkan hanya di pulau Jawa saja,” bebernya.

Ereveld Kalibanteng juga melakukan pemakaman kembali korban perang, salah satunya berasal dari Tarakan, (1964), Palembang (1967), dan Makassar (1968).

Direktur OGS Indonesia Robbert van de Rijt menjelaskan, dari total tujuh Ereveld di Pulau Jawa terbaring lebih dari 25.000 korban perang. Baik dari Sipil dan tentara yang gugur selama perang di Hindia Belanda. “Sampai sekarang, kami masih mencari korban perang untuk dapat dimakamkan secara layak sebagai penghormatan terutama keluarga masing-masing,”tambahnya.