Atap Kelas Roboh, Belajar di Musala

29
BERSIHKAN PUING : Anggota Batalyon Infanteri Raider 400/Banteng Raiders Kodam IV/Diponegoro dibantu warga dan guru membersihkan puing-puing kantin SD Negeri Srondol Kulon 01 yang roboh diterjang angin puting beliung, Kamis (24/1) lalu. (kanan) Para siswa kelas 5 terpaksa belajar di teras musala sekolah.FOTO-FOTO: ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID
BERSIHKAN PUING : Anggota Batalyon Infanteri Raider 400/Banteng Raiders Kodam IV/Diponegoro dibantu warga dan guru membersihkan puing-puing kantin SD Negeri Srondol Kulon 01 yang roboh diterjang angin puting beliung, Kamis (24/1) lalu. (kanan) Para siswa kelas 5 terpaksa belajar di teras musala sekolah.FOTO-FOTO: ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID

RADARSEMARANG/.ID, SEMARANG- Pasca robohnya atap kantin dan ruang kelas di SD Negeri Srondol Kulon 01 Semarang akibat diterjang angin puting beliung, menyebabkan puluhan siswa terpaksa belajar di teras musala sekolah. Para siswa kelas 5 ini terpaksa belajar di tempat ibadah lantaran ruang guru yang akan dijadikan kelas darurat, kemarin masih dalam penataan.

Kepala SDN Srondol Kulon 01, Kurniawati, mengatakan, atap kantin dan ruang kelas itu roboh Rabu (24/1) sekitar pukul 13.45. Beruntung, saat kejadian, kegiatan belajar sudah selesai dan sebagian besar siswa sudah pulang. “Siswa sudah pada pulang. Hanya ada anak-anak yang ikut kegiatan menari, tapi tidak di dekat ruang kelas yang roboh,” kata Kurniawati kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (25/1).

Kurniawati mengatakan, saat kejadian ada siswa yang melihat atap ruang kantin membumbung tinggi, karena diterjang angin yang berbentuk spiral dan melingkar seperti awan di atas sekolah. “Saat itu, suaranya gemuruh. Anak-anak yang berada di luar melihat genteng terangkat lalu jatuh,” ujarnya.

Akibatnya, para siswa dan guru panik. Mereka langsung berkumpul di tempat yang aman. Beruntung angin kencang tidak berlangsung lama. Sehingga hanya satu ruang kelas di sekolah yang dibangun 1976 ini yang atapnya roboh. Selain itu, kantin sekolah juga porak-poranda. Sehari pasca kejadian itu, Jumat (25/1), proses belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa. Untuk sementara, para siswa kelas 5 menempati teras musala. Sebab, ruang guru masih dipersiapkan sebagai kelas darurat. “Nantinya para guru akan menempati ruang kepala sekolah,” katanya.

Pantauan kemarin, sejumlah anggota Batalyon Infanteri Raider 400/Banteng Raiders Kodam IV/Diponegoro bergotong royong membersihkan puing-puing atap yang roboh. Mereka juga mengevakuasi inventaris sekolah di kelas tersebut ke tempat yang aman. “Dari Dinas Pendidikan Kota Semarang akan datang untuk menghitung estimasi anggaran perbaikan,” kata Kurniawati.

Arga, 10, siswa kelas V SDN Srondol Kulon 01, mengatakan, meskipun belajar di ruang terbuka, tidak menyurutkan semangatnya untuk menimba ilmu. “Memang ada perbedaan antara di dalam ruang kelas dengan di musala, tetapi saya tetap konsentrasi belajar kok. Kami berharap ruang kelas yang rusak segera diperbaiki,” harapnya.(hid/aro)