Bermula Pertemuan IKA Unissula, Kini Menyebar ke Beberapa Kota

Doni Syahroni, Penggagas Gerakan Jumat Beramal

103
PEDULI SESAMA: Doni Syahroni, penggagas gerakan Jumat Beramal saat memberikan sedekah kepada warga di Kota Semarang. (DOKUMEN PRIBADI)
PEDULI SESAMA: Doni Syahroni, penggagas gerakan Jumat Beramal saat memberikan sedekah kepada warga di Kota Semarang. (DOKUMEN PRIBADI)

Bisa berbagi dengan masyarakat kecil merupakan salah satu tujuan Gerakan Jumat Beramal. Kegiatan yang digagas Doni Syahroni ini rutin dilakukan setiap Jumat dan sudah berjalan selama 4 tahun.

EKO WAHYU BUDIYANTO

RADARSEMARANG.ID, BAGI yang suka beramal, selain ingin berbagi dengan sesama, juga dipercaya bisa menghidarkan hal-hal yang negatif. Hal itu pula yang dipercaya oleh pengaggas gerakan kemanusiaan Jumat Beramal, Doni Syahroni. Pria kelahiran Cirebon, 30 Juli 1980 yang kini berdomisili di Jalan Kapas Tengah 8, Perumahan Genuk Indah, Kecamatan Genuk ini menceritakan bagaimana lika-liku melakukan gerakan tersebut secara kontinyu dan tidak pernah terputus.

Gerakan Jumat Beramal ini digagas saat pertemuan antara Ikatan Alumni Unissula (Universitas Islam Sultan Agung) Semarang di salah satu hotel di Kota Semarang 4 tahun silam (2014). Kebetulan Doni –sapaan akrabnya– merupakan alumni Unissula. Dalam pertemuan ikatan alumni tersebut juga dihadiri oleh Bupati Kendal Mirna Annisa yang juga Sekjen DPP IKA Unissula. Gagasan Doni tersebut lantas disambut positif oleh Mirna.

“Selama satu tahun di tahun pertama bekerja sama dengan Bupati Kendal melakukan gerakan Jumat Beramal di Kabupaten Kendal dan Kota Semarang,” ujar Doni kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dalam aksi tersebut titik yang menjadi fokus gerakan, yaitu wilayah pinggiran Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. “Juga panti asuhan, panti jompo, anak yatim, dan tukang becak, semua kita sambangi dan kunjungi untuk berbagi dengan mereka,” katanya.

Dalam gerakan tersebut, ia membagikan makanan dan minuman, seperti nasi kotak dan buah-buahan. Yang terbesit dalam benak Doni yaitu masyarakat yang merasa terpinggirkan merasa masih ada memperhatikan mereka. “Tujuan dari gerakan ini awalnya hanya sebatas ingin ikut serta berbagi dengan masyarakat yang terpinggirkan,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, Gerakan Jumat Beramal semakin membesar. Gerakan ini bahkan diperhatikan oleh organisasi lain. Organisasi Pemuda Pancasila (PP) Kota Semarang pun akhirnya ikut bergabung dalam gerakan tersebut. Selama dua tahun awal Doni bersama Bupati Kendal Mirna Annisa dan PP Kota Semarang terus menggencarkan Gerakan Jumat Beramal. Hingga dirinya juga dipercaya menjadi Ketua Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) Kota Semarang.

Melalui LCKI, Gerakan Jumat Beramal semakin masif dilakukan. Melibatkan pula seluruh anggota lembaga itu. Setelah berjalan 2,5 tahun, Mirna Annisa bergerak sendiri dengan gerakan serupa, dan PP Kota Semarang juga berjalan sendiri dengan gerakan yang sama.

“Saya merasa bangga, walaupun berjalan sendiri, nilai kebaikan yang ingin saya sebarkan bisa tercipta,” ujarnya.

Seperti halnya kegiatan lain, perjalanan Gerakan Jumat Beramal juga berliku. Pada awalnya, anggaran banyak disupport dari donatur-donatur besar. Kemudian di tengah jalan, kerap tidak ada donatur yang ikut dalam gerakan tersebut. Akhirnya, ia bersama dengan 20 anggota LCKI bertekad untuk tetap melanjutkan gerakan. Supaya gerakan tidak terputus, akhirnya mereka mengeluarkan uang pribadi.