Mengolah Limbah Carica Menjadi Biodisel

104

Oleh : Dian Permana Putri*

RADARSEMARANG.ID, Pepaya gunung (Carica cundinamarcensis) atau yang lebih dikenal sebagai carica dapat tumbuh dan berbuah di negara tertentu saja. Seperti Brazil, India, dan Indonesia. Karena carica memiliki daerah persebaran dan vegetasi intraspesies yang sempit dan hanya dapat tumbuh pada daerah dengan karakter yang spesifik.
Geografi Dataran Tinggi Dieng memenuhi kriteria daerah tumbuh carica, dengan rata-rata ketinggian 2.000 mdpl, curah hujan 2.652 mm per tahun, suhu rata-rata 14°C dengan karakteristik tanah yang lembap. Tanaman ini dapat tumbuh subur dan berbuah di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo.

Oleh karena itu, Dieng menjadi satu-satunya supplier bahan baku bagi 328 UMKM yang menyerap 26.725 orang tenaga kerja. UMKM ini memproduksi olahan carica seperti manisan, selai, dodol, dan permen carica yang tersebar di area Wonosobo. Dari tahun ke tahun jumlah produksi olahan carica meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan pasar baik dalam negeri maupun luar negeri seperti ekspor ke Thailand.

Peningkatan jumlah produksi olahan carica berakibat pada peningkatan jumlah limbah yang dihasilkan. Produsen hanya memanfaatkan daging buah carica yang persentasenya tidak mencapai 50 persen bila dibandingkan dengan buah carica utuh. Limbah komulatif UMKM olahan carica mencapai 9 ton per bulan dalam bentuk biji dan kulit carica.

Masyarakat tidak melakukan pengolahan limbah karena dianggap tidak memiliki nilai ekonomis dan hanya akan menimbulkan pembengkakkan biaya produksi. Mereka membuang limbah carica sehingga muncul masalah pencemaran air sungai dan udara dengan munculnya bau busuk.

Proses produksi olahan carica menggunakan mesin berbahan bakar diesel. Pada saat harga BBM melonjak, masyarakat menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar alternatif untuk menekan biaya produksi sehingga kerugian dapat diminimalisasi.

Kayu bakar menghasilkan gas buang atau emisi sebanyak 1,75 kg CO2/kg, 1,5 kali lebih besar dari emisi minyak diesel dan 1,6 kali lebih besar dari biodiesel. Sehingga dapat disimpulkan kayu bakar memiliki potensi lebih tinggi sebagai pencemar dibanding dengan biodiesel dan diesel.

Pada tahun 1973, penelitian Chan dan Tang membuktikan bahwa biji Carica cundinamarcensis mengandung minyak dalam jumlah yang cukup tinggi, yaitu sebanyak 32,97 persen dari jumlah total biji dalam satu buah carica. Jumlah tersebut relatif lebih tinggi dibanding dengan biji-bijian lain seperti biji kurma (23,5%), biji teh (20%-45%), biji apel (19,23%), biji pear (14,1%), dan biji anggur (12%-22%).

Melalui penelitian yang dilakukan oleh dilakukan oleh tiga mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada tahun 2017, dibuktikan bahwa minyak carica dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif berupa biodiesel.

Biodiesel mudah diurai di alam dan menghasilkan emisi 78% lebih sedikit dibanding dengan minyak diesel sehingga dinilai lebih ramah lingkungan. Sebanyak 555 gram biji carica dapat menghasilkan minyak 215,38 gram sehingga rendemen (perbandingan kuantitas minyak yang dihasilkan dari ekstraksi tanaman) yang diperoleh sebesar 38,80% yang selanjutnya disintesis melalui tiga tahap. Yakni ekstraksi minyak, reaksi esterifikasi, dan transesterifikasi untuk menghasilkan 145,09 gram biodiesel.