Tak Serumit yang Dibayangkan

Perawatan Mobil Eropa

244
TIDAK SULIT: Pembelian sparepart untuk mobil BMW dari tahun 1990an sampai yang jenis terbaru bisa dibilang murah dan harganya hampir sama dengan mobil asal Jepang. (Nurchamim/RADARSEMARANG.ID)
TIDAK SULIT: Pembelian sparepart untuk mobil BMW dari tahun 1990an sampai yang jenis terbaru bisa dibilang murah dan harganya hampir sama dengan mobil asal Jepang. (Nurchamim/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, BAGI Sebagian orang, membeli atau memiliki mobil Eropa tentu berfikir dua kali apalagi mobil Eropa yang bekas pakai alias second. Pasalnya masih banyak orang yang beranggapan jika perawatan mobil Eropa mahal, belum lagi jika melakukan pergantian sparepart yang rusak.

Sesepuh BMWCCI Chapter Semarang, Indra Gunawan mengatakan jika anggapan perawatan mobil Eropa tidak sepenuhnya menguras kantong. Pria yang akrab disapa Kipu ini mencontohkan, perawatan atau biaya pembelian sparepart untuk mobil BMW dari tahun 1990an sampai yang jenis terbaru saat ini bisa dibilang murah dan harganya hampir sama dengan mobil asal Jepang.

“Kalau perawatan dibilang mahal sih tidak juga ya, yang penting adalah rutin melakukan pengecekan oli, pada dasarnya semua mobil sama. Mobil Eropa tidak seribet yang dipikirkan orang,” katanya.

Untuk pergantian sparepart BMW, tergantung dengan kerusakan yang ada pada mobil. Jika sifatnya urgent, misalnya rusak pada bagian ECU, Imobilizer dan lainnya tentu sedikit menguras kantong. Namun jika hanya servis, ganti kampas kopling ataupun kampas rem, harga sparepart di pasaran tidak jauh berbeda. “Kalau rusaknya bagian ECU, pada BMW yang keluaran tahun 1990an keatas, harganya hampir sama dengan mobil Jepang, sekitar Rp 8 jutaan,” tuturnya.

KLASIK: Meski tergolong klasik, Fiat seri 1100 D tahun 1961 milik Riko Putra tidak membutuhkan perawatan yang rumit. (Nurchamim/RADARSEMARANG.ID)
KLASIK: Meski tergolong klasik, Fiat seri 1100 D tahun 1961 milik Riko Putra tidak membutuhkan perawatan yang rumit. (Nurchamim/RADARSEMARANG.ID)
KLASIK: Meski tergolong klasik, Fiat seri 1100 D tahun 1961 milik Riko Putra tidak membutuhkan perawatan yang rumit. (Nurchamim/RADARSEMARANG.ID)
KLASIK: Meski tergolong klasik, Fiat seri 1100 D tahun 1961 milik Riko Putra tidak membutuhkan perawatan yang rumit. (Nurchamim/RADARSEMARANG.ID)

Dirinya mengkui jika kebanyakan sparepart mobil Jepang memang lebih murah dan terdiri dari berbagai kualitas. Ada yang sparepart orisinal dari after sales, namun ada juga yang KW atau buatan Cina ataupun Taiwan. Untuk mobil Eropa, berbagai sparepart ini biasanya hanya tersedia original.

“Sekarang sih, dari Taiwan ada juga sparepart BMW yang KW, harganya biasanya terpaut separuh harga. Kampas rem misalnya, orisinalnya sampai Rp 600 ribu per set, kalau yang KW ya Rp 200 ribuan, untuk mobil Jepang sebenarnya yang original pun harganya hampir sama dengan sparepart BMW kok,” jelasnya.

Sementara itu, Janu Susilo, Ketua Komunitas Citroen Semarang, juga sepakat jika perawatan mobil Eropa tidak ribet dan mahal. Janu yang memiliki berbagai mobil Citroen seri klasik ini, mengaku untuk merawat mobil tua miliknya hanya perlu melakukan pengecekan rutin pada oli mesin, busi dan kelistrikan agar tetap nyaman dan aman saat digunakan.“Kalau dari segi perawatan sama saja, saya juga ada mobil Jepang, yang penting rajin cek oli, jangan sampai kehabisan,” tambahnya.

Untuk mobil klasik miliknya, jika dibandingkan mobil klasik buatan Jepang seperti Toyota DX ataupun sejenisnya, pada dasarnya hampir sama jika dilihat dari segi biaya. Sparepart yang ada pun bisa dibilang mudah ditemukan, namun khusus mobil Citroen alias mobil Eropa miliknya, dipasaran memang jarang ada spare part KW. “Kalau Eropa jarang ada yang KW, harganya memang lebih mahal tapi masa pakainya sampai 5 tahun lebih. Jika dikalkulasi dengan sparepart mobil Jepang yang KW, habisnya hampir sama karena masa pakainya paling lama 2 tahunan,” jelasnya.