Mereka yang Setia Mengabdi di Panti Marhaen Punya Akses Melayani Presiden

74
ARUS BAWAH : Sejumlah kader PDI Perjuangan dan simpatisan menyambut kemenangan Ganjar Pranowo dan Taj Yasin dalam Pilgub Jateng 2018 di halaman Panti Marhaen. (Nurchamim/RADARSEMARANG.ID)
ARUS BAWAH : Sejumlah kader PDI Perjuangan dan simpatisan menyambut kemenangan Ganjar Pranowo dan Taj Yasin dalam Pilgub Jateng 2018 di halaman Panti Marhaen. (Nurchamim/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, Peran mereka tak kalah penting dalam membesarkan PDI Perjuangan. Mereka bukan politisi, bukan pula petinggi partai. Tapi, sehari-hari mengabdi di kantor partai, melayani para petinggi banteng moncong putih. Dialah Eskonde, Eko Setiadi, dan Slamet Suryadi.

ORANG-orang ini, dalam kesehariannya, bertugas mengurus segala hal di Panti Marhaen Semarang (kantor DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah). Mulai dari kebersihan hingga hal-hal lain berkaitan dengan pemeliharaan gedung. Tidak hanya satu dua tahun, mereka sudah puluhan tahun menjalankan tugas.

Lebih tepatnya, mereka bertanggung jawab di bagian teknis. Kendati demikian, kehadiran mereka tidak dapat diremehkan. Peran mereka sangat penting dalam setiap kegiatan resmi di Pantai Marhaen yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso No. 24, Semarang ini.

Hanya merekalah yang memiliki akses melayani Presiden, mulai dari Megawati hingga Jokowi (Presiden yang diusung oleh PDI Perjuangan). Termasuk, sejumlah pejabat tinggi lainnya. Pada kesempatan ini, mereka akan tampil beda. Ada protap yang mengatur bagaimana mereka berpakaian.

”Harus memakai pakaian berlambang merah putih, dan ada logo banteng. Kemudian, memakai sepatu. Pramusaji di manapun kalah,” ujar Eskonde, 54, yang mengaku sudah ada di Panti Marhaen sejak tahun 1970-an. Ia juga mengaku jatuh cinta pada PDI Perjuangan, karena sang ayah merupakan bagian dari PNI.

Atas tugas yang diemban ini, Eskonde kerap bertemu dengan orang-orang penting secara langsung. Hal yang oleh masyarakat umum mungkin tidak semudah seperti yang dibayangkan. Bahkan, saking biasanya melayani, mereka hingga hafal apa yang menjadi kebiasaan para petinggi PDI Perjuangan.

”Kalau Bu Puan (Puan Maharani, putri Megawati) itu sukanya pas minum teh diberi jeruk. (Puan) Suka makan lunpia dan burung dara goreng. Kalau Pak Prananda (adik Puan) biasa pakai gula rendah kalori. Nah, kalau Bu Mega suka lunpia juga dan minumnya air mineral,” ucap Eko Setiadi, 62, pria yang juga bertugas di bidang teknis. Eko aktif di Panti Marhaen sejak tahun 1980-an.

Pengalaman bertemu Presiden maupun anggota DPR RI secara langsung, tanpa jarak, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Slamet Suryadi. Pria 45 tahun ini senang karena secara langsung, nama mereka disebut orang-orang top di negeri ini.

”Kami yang laden (melayani) di sini. Sampai-sampai (nama kami) dihafalin. Tapi, kalau memang lupa, panggilnya pasti, Pak. Tidak pernah langsung nama. Dan, ketika menyuruh pasti menggunakan kata, tolong,” kata Surya—panggilan intim Slamet Suryadi— menceritakan pengalamannya. Hal seperti inilah yang membuatnya cinta dengan PDI Perjuangan, selain program-program partai berlambang banteng moncong putih tersebut.

Satu hal yang sangat mereka sukai menjadi bagian dari PDI Perjuangan adalah rasa kekeluargaan yang mereka temukan di dalamnya. Tidak ada pembedaan antara atasan maupun bawahan. Semua dianggap seperti saudara. Karenanya, mereka akan sangat merasa kehilangan ketika ada salah satu keluarga partai yang berpulang terlebih dulu.

”Seperti Bu Nuniek (almh. Nuniek Sriyuningsih, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jateng). Itu sudah kami anggap sebagai ibu kami sendiri. Kami juga dianggap sebagai anak. Di sini kekeluargaannya sangat terasa. Tidak ada perbedaan antara atasan atau bawahan,” ucapnya.

Dengan bertambahnya usia PDI Perjuangan, mereka berharap agar Jawa Tengah tetap menjadi Kandang Banteng. PDI Perjuangan tetap unggul dan unggul di Jawa Tengah. Menjadi lebih besar dan memperoleh kemenangan abadi. ”Ini yang kami inginkan. PDI Perjuangan menjadi lebih besar. PDI Perjuangan jangan sampai kalah di Jawa Tengah. Abadi di Jawa Tengah. Kami menjadi kader sudah sangat senang,” kata Surya mewakili kedua rekannya. (sga/isk)