Melek Pendidikan Politik, Tak Hanya Lihat Figur

33

RADARSEMARANG.ID, Menjelang Pileg dan Pilpres pada 17 April mendatang, konstelasi politik semakin menggeliat. Parpol-parpol berlomba-lomba menawarkan program guna mendulang suara rakyat. Tak terkecuali di Jawa Tengah. Di provinsi ini, partai berlambang Banteng Moncong Putih, masih bertengger di posisi atas.

Hanya saja, pada Pilgub lalu, suara calon gubernur yang diusung PDIP dan koalisinya, jauh dari ekspetasi. Ganjar-Yasin yang pada akhirnya memenangi Pilgub Jateng, hanya meraup 58,78 persen. Apakah ini pertanda bahwa Jawa Tengah masih layak disebut kandang banteng? Wartawan Jawa Pos Radar Semarang, berbincang dengan pengamat politik dari Undip, M. Yulianto M.Si.

Yulianto berpendapat, PDI Perjuangan masih merupakan parpol dominan yang masih mendapatkan simpatik dari masyarakat Jateng. Semua itu, kata dia, tidak lepas dari mindset atau pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa partai berlambang banteng moncong putih tersebut, merupakan partainya rakyat kecil.

Selain itu, Yulianto menilai, efek Jokowi masih sangat kuat dan akan terus meningkatkan elektabilitas partai. “Jika melihat peta politik saat ini, saya kira PDI Perjuangan masih sangat kuat dan elektabilitasnya masih tinggi,” kata Yulianto.

Meski begitu, lanjut Yulianto, bukan tidak mungkin elektablitas partai bakal turun, jika tidak dijaga dengan baik. Hal itu terlihat dengan perolehan suara di Pilgub Jateng lalu, yang hanya meraup 58,78 persen suara. Mengingat era keterbukaan sekarang, banyak yang sudah melek pendidikan politiknya serta tidak hanya melihat figur. Tetapi juga kinerja, program, dan visi misi partai. “Sosok tetap berpengaruh, tetapi juga bagaimana program yang benar-benar prorakyat. Itu harus terus dijalankan dan dibuktikan,” tandas Yulianto.

Dosen Undip ini menambahkan, ada beberapa faktor yang membuat PDI Perjuangan masih eksis dan mendapat simpatik publik. Pertama, kultur politik partai yang memang dikenal basis nasionalis. Sebab, PDI Perjuangan dikenal partai yang berbasis dan lahir dari embrio nasionalis. “Nah, hal itu sangat menguntungkan, mengingat sebagian besar jika merasa nasionalis, maka akan mendukung partai yang berlatar belakang sama,” tambahnya.

Kedua, PDI Perjuangan dikenal sebagai salah satu partai yang solid dan struktur parpol berjalan bagus. Hal itu terlihat di Jawa Tengah, dengan menempatkan kader-kader terbaiknya untuk mengisi hampir lebih separo dari kepala daerah. Bahkan, Gubernur Jawa Tengah saat ini juga merupakan kader militan yang secara otomatis akan menguntungkan partai di Jateng. “Begitu ada instruksi, semua satu suara untuk menjalakan. Inilah yang membuat PDI Perjuangan tetap mendapatkan suara banyak. Karena kader semua satu suara dan struktur berjalan.”

Serta, kunci kemenangan PDI Perjuangan karena secara sosiologis, memiliki pendukung dan simpatisan yang sangat militan dan loyal. Artinya, mereka akan terus memperkenalkan partai kepada publik dengan sukarela. Bahkan, pendukungnya sangat kuat dan akan cenderung mempertahankan partai sekuat tenaga. “Pendukungnya dikenal cukup loyal dan militan. Jadi mereka akan membela partai mati-matian, sehingga akan terus eksis.”

Bagaimana dengan Pilpres 2019? Prediksi Yulianto, suara PDI Perjuangan diprediksi masih akan tinggi di Jateng. Meski, lawan politik, juga turun gunung dan membuat posko di basis suara Jokowi di Solo Raya. Bahkan, strategi yang diambil partai pengusung Prabowo-Sandiaga Uno, langsung menusuk jantung kantong suara Jokowi. Satu sisi, sikap dan perilaku politik cukup sulit diubah, mengingat selama ini Jateng merupakan kandang banteng. (fth/isk)